Selamat membaca kawan maupun lawan.Sebaiknya saya perkenalkan diri saya terlebih dahulu. Mungkin ada yang bertanya siapakah saya ini sebenarnya? Ya, saya adalah Tri, lebih lengkapnya Tri Utomo Hadi, sebuah nama yang di beri oleh seorang bapak kepada anaknya yang lahir tepat pada tanggal, bulan dan tahun yang ganjil. Apakah saya boleh memberitahukan tanggal kelahiran saya? Sepertinya pembaca tidak melarang. Oke, saya akan memberitahukan jika saya lahir pada tanggal 13 November 1991 (ingat tanggal ini dan jangan lupa doa serta kadonya). Saya tidak akan menceritakan siapa nama Bapak dan Ibu saya disini, pamali. Sejak kecil, saya ini bertubuh sixpack, walaupun itu saya sendiri yang beranggapan seperti itu, mesti pede dengan keadaan sebenarnya yang memang sixpack. Oh iya, saya lupa memberitahu bahwa nama panggilan saya sejak kecil adalah "i". Ingat! Hanya satu huruf setelah huruf "H" dan sebelum huruf "J". Sinopsis dari pemberian nama yang begitu singkat ini saya tidak tahu pasti berawal darimana dan siapa yang memulainya, maklum saat itu saya masih kecil dan sukanya permen dan camilan, bukan nama. Saat saya mengenyam pendidikan pertama kali, yaitu taman kanak-kanak, saya bercita-cita menjadi pilot, ya namanya juga anak kecil, kalo tidak dokter, ya polisi atau pilot. Hingga saat ini saya masih memimpikan cita-cita yang aaaah, sudahlah lupakan soal cita-cita itu kawan. Setelah lulus dari taman kanak-kanak dengan prestasi yang gemilang dengan predikat "Gambar Terbaik" oleh guru saya sehingga saya bisa melanjutkan pendidikan saya yang lebih tinggi dan bergengsi, yaitu Sekolah Dasar Negri 1 di kota Sekadau (kotanya hampir mirip dengan Las Vegas). Tidak ada hambatan selama saya bersekolah di sekolah tersebut, mungkin karena Ibu selalu memberiku bakwan setiap akan pergi kesekolah sehingga saya bisa lulus dengan tepat waktu, yaitu hanya 6 tahun saja bersekolah di sekolah itu. Ternyata saya pintar juga, Bapak saya saja bangga. Selanjutnya saya disekolahkan lagi oleh Bapak saya ke sekolah yang masih bertaraf Kabupaten, yaitu SMP Negri 1, masih di kota yang sama. Saya heran, kenapa Bapak saya masih ingin menyekolahkan saya, apa beliau tidak iri melihat anaknya sekolah sedangkan dia tidak? Ah, itu pertanyaan konyol yang masih menghantui saya, ya jelaslah Bapak saya sudah muak dengan tulisan yang ada di papan tulis itu, apalagi saya. Balik lagi ke cerita. Saat akan memasuki persekolahan, saya membayangkan jika seragam yang akan saya pakai itu adalah pakaian kaos hitam dengan celana loreng bak tentara, maklum saya ter-influence sama JAMRUD, salah satu band yang saya tahu jebolan LOG ZHELEBOUR dengan judul lagu yang saya suka saat itu adalah "Telat 3 Bulan". Hmm, kecil-kecil sudah cabul ternyata ini bocah. Oh maaf, barusan adalah intermezzo yang konyol, oke balik lagi ke cerita sekolah tadi. Nah, saat mulai sekolah, ternyata bayangan saya yang memakai seragam seperti JAMRUD itu pun pudar, karena tetap saja sekolah di Indonesia jenjang Sekolah Menengah Pertama itu mengenakan seragam putih di baju dan biru di celana pendek. Ini seperti seragam polisi di negara entah apa itu, saya lupa. Alhasil dari mengenakan seragam seperti ini, saya masih saja terlihat seperti bocah SD, dengan celana pendek diatas lutut, padahal itu aurat saya nampak loh. Mengenai prestasi di sekolah yang baru saya rasakan ini, prestasi saya lumayan, lumayan anjlok dan lumayan bagus. Kenapa? Saya juga tidak tahu, karena inilah yang saya sebut dengan Achievement Entertainment, yaitu semacam mengolok-olok persaingan prestasi di kelas ataupun sekolah. Nah, perlu saya ingatkan, saya mempunyai seorang teman yang begitu konyol. Kenapa saya menyebut begitu? Karena semenjak saya di Taman Kanak-kanak hingga ke jenjang SMP, dia selalu menghantui saya, entah itu karena takdir dari Yang Maha Esa atau karena IQ saya yang mencapai 230 sehingga dia selalu membuntuti saya. Ya, namanya adalah Azhari Fajri, ya itulah namanya, saya ingat betul itu sudah lengkap namanya. Sudah, lupakan akan kekonyolan beliau, karena akan mengganggu ketenangan dimanapun dia berada jika saya membicarakan dia. Saya bersama Azhar dan empat orang pria macho pernah berada dalam satu kelas pilihan yang di kelilingi oleh sekitar 20 wanita, mungkin lebih. Inilah yang menyebabkan kekonyolan dan IQ kami berdua meningkat seiring kami berada dalam satu ruangan seluas 6 x 5 meter dengan para bidadari (tidak semua wanita cantik, tergantung mata anda melirik) yang hampir 30 hari dalam sebulan ketemu 5-6 jam sehari. Keadaan seperti ini hanya berlangsung tidak lebih dari 12 bulan, karena itu adalah saat terakhir kami menikmati masa lajang, walaupun kami sekarang masih lajang di umur yang sudah berkepala dua. Setelah melewati masa-masa penuh kecabulan ini, kami berdua pun tamat dari sekolah ini dan melanjutkan ke sekolah paling atas, yaitu Sekolah Menengah Atas, dan masih dalam satu sekolah lagi bersama dia, Azhar. Setelah melewati masa sekolah dengan bercelana pendek hampir 9 tahun yang membuat saya bosan, akhirnya saya bisa juga merasakan bercelana panjang di sekolah. Walaupun perubahan terjadi pada kami mulai dari tubuh yang semakin sixpack, suara yang semakin menggelegar dan melengking seperti suara Dani Filth ataupun Arul Efansyah, perkembangan alat kelamin kami akibat sudah Baligh, tapi kekonyolan kami tetap konstan nan meningkat seperti adanya Hittler yang hanya sekali muncul dalam sejarah. Di sekolah inilah, saya dan Azhar menemui berbagai macam teman yang juga konyol sama seperti kami, dimulai dari Edo Domi, Gio, dan para konyolers lainnya. Saya tidak akan menganalisa watak, sifat, maupun kelakuan mereka, karena mereka adalah fiktif. Bukan, ini fakta kawan, fakta, mereka bukan fiktif, SUMPAH ! Maaf, saya terlena dengan tulisan saya ini, karena saya mesti mengingat beberapa kekonyolan kami. Sekian dulu tulisan konyol ini sampai disini, karena saya akan memikirkan lagi tulisan konyol lainnya, selamat menantikan tulisan saya para KONYOLERS, Salam Konyol Damai (SKD).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar