Sedikit Umpatan Dari Saya

Jumat, 14 November 2014

Mereka Lebih Konyol Dari Aku

Baru saja aku menapaki hidup ke 8.401 kemarin. Baru memasuki babak baru dalam usia yang sudah uzur. Ah, kisah hidupmu tak semulus kisah hidupku yang seperti jalanan menuju kampung halamanku nun jauh di hulu sebuah provinsi di Kalimantan.
Ingin ku ceritakan kisahku semalam, lagi-lagi dalam keadaan konyol. Entahlah, ini bukan efek ganja yang aku hisap untuk rekreasi dulu. Tetapi memang konyol hingga aku lupa apa yang ingin aku kisahkan. Juga bukan niatku untuk memenuhkan postingan di blog agar kelihatan keren. Sudahlah jika kalian memaksaku untuk menceritakan kejadian semalam.
Ceritanya begini. Semalam, hujan turun dengan derasnya di kota perantauan, sangat deras. Kalau pemuda galau, keadaan semalam sangat cocok untuk duduk di pojokan kamar sambil memandang keluar melalui ventilasi karena jendelanya tak ada, ditemani alunan musik kampret nan galau yang kalau buat main judi remi jelas bikin yang dengar jadi nangis meskipun menang judi. Cocok! Sangat cocok!
Jadi, semalam itu hujan deras, tapi bukan karena hujan yang ingin aku ceritakan. Masalahnya pas hujan, aku sedang santai di warkop pinggir jalan di kawasan pertokoan warkop, pokoknya banyak warkop di daerah situ. Yang jelas warkop yang aku tumpangi untuk bersantai tak terkena hujan, kan ada atapnya men. Saat santai, ada pemuda datang sendirian, duduk di meja sebelahku. Ganteng, kalau ada si Jono, mungkin Jono naksir sama si pemuda itu. Waaah, dalam pikirku, dia sendirian pasti lagi nunggu teman perempuannya, kesempatan bagiku untuk dapat kenalan perempuan, kalau bisa aku ajak sekamar, eh sehobi maksudnya. Tanpa rasa canggung, aku ajak kenalan dan benar ternyata dia menunggu teman perempuannya. Wah, pikiranku benar, yeah jackpot! Sambil nunggu hujan, sruput kopi sambil hisap ganja, eh rokok maksudnya, dan ngobrol sama si pemuda, ternyata dia adalah seorang pengusaha muda, modalnya memang dari bapaknya tapi bisa dikembangkan menjadi besar besar dan besar.
Dari obrolan panjang kami hingga 2 jam menunggu teman perempuannya yang tak kunjung datang karena hujan deras, aku mendapatkan ilmu dari dia. Ilmu wirausaha, yeah. Tak perlu beli buku wirausaha lagi kan udah dapat ilmunya dari dia pikirku. Katanya, sekarang pemuda takut akan berwirausaha, alasannya takut rugi. Masalah rugi untung, itu kita yang atur. Kalau mau rugi, ya bermalas-malas dan perbanyak pengeluaranlah kita. Kalau mau untung, rajin-rajinlah dan manajemenkan penghasilan sebijak mungkin, bukan karena pelit. Dia juga mencontohkan dengan pertokoan sepanjang jalanan yang terkenal karena banyaknya warkop tersebut. “Lihatlah, apakah ada wajah pribumi yang memiliki ruko disini?”katanya. Memang tak ada selama kulihat. Hanya wajah oriental yang ada. Itu karena rajinnya dan pandainya mereka mencari peluang untuk berwirausaha katanya. Kalau dicermati, kemanakah orang pribumi? Ternyata orang pribumi lebih memilih bersaing, entah sehat atau tidak, dalam perebutan kursi pegawai negeri. Oh betapa konyolnya negeri ini menurutnya. Waaaah, ternyata dia juga konyol karena bisa berpikiran konyol. Sampai larut malam kami berbincang saling berbagi ilmu, walau lebih banyak ilmu yang masuk ke aku karena dia lebih berpengalaman. Sungguh konyol semalam, hanya karena hujan dan santai di warkop, aku bisa dapat ilmu. Sudahlah, aku ingin ke masjid untuk membacakan khotbah. Yeah! Salam Konyol Damai (SKD)

Kamis, 13 November 2014

MENULIS SUATU KEKONYOLAN

Tak terasa, kini aku hidup sudah lebih dari delapan ribu hari, tepatnya 8.401 hari. Artinya sudah memasuki tahun kedua puluh tiga. Lumayan tua dan lama juga hidup di dunia yang fana menurut manusia yang kurang mengerti esensi kehidupan. Kehidupan yang ku jalani selama ini belumlah bisa dikatakan cukup baik untuk seorang agamis dan nasionalis. Aku masih berlumur dosa jika memakai kata yang berlebihan untuk sifat religius, aku juga masih banyak melanggar aturan untuk nasionalis diri.

Kini, aku sudah tak muda lagi walau belum dikatakan tua seperti bapak. Tetapi semangatku untuk lebih maju dari mereka masih berkobar, semangat untuk menuju kesuksesan dunia, belum pada akhirat. Meskipun kesuksesan untuk akhirat masih tersimpan dalam niat.
Hari-hariku dulu memang tak mulus, memang banyak dosa yang aku buat. Tetapi ingatlah, jika aku tak mau hidup dalam lingkaran masa lalu. Biarlah kelam itu sebagai pelajaran bagiku, tidak untuk jalanku yang menuju sukses.

Ibuku, telah melahirkanku dan merawatku hingga usiaku menginjak usia 20 tahun. Saat itu Tuhan memang ingin bertemu dengannya, ingin melihat seorang ibu yang penuh kasih dan sayang, penuh cinta pada anaknya, tetapi tidak melebihi Ar-Rahman dan Ar- Rahim dari sang pencipta. Ibu masih ada dalam hatiku, karena memang belum ada perempuan sebaya atau setengah baya yang mengisi kosongnya hatiku. Mungkin kalimat tadi hanya candaan, biar yang membaca tidak menangis, aku buatkan sedikit guyonan. Tak ada kata yang buruk mengenai ibu, karena dia Ibuku, bukan Ibumu. Terimakasih ibu.

Bapak, sama dengan ibu, tak ada kata yang buruk untuknya. Bapak yang masih bisa menemaniku di hari tuanya, masih bekerja untuk menyekolahkan aku. Masih selalu ku dengar nasihat beliau saat aku berada di rumah. Maafkan anakmu ini, yang masih suka melanggar nasihatmu, masih suka membohongimu. Pasti aku menyesal tak mengindahkan nasihat-nasihatmu. Tetaplah kuat, tetaplah semangat, tetaplah mengirim uang untuk anakmu di perantauan pak. Karena bapakku pasti ingin melihatku memakai jas, toga, dan sebuah plakat yang diberikan oleh kampus, berfoto bersama beliau, dan dipajang di dinding ruang tamu. Pastinya beliau ingin menunjukkan pada teman-temannya, bahwa dia telah sukses mendidik anak-anaknya, sukses menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Bukan untuk pamer, tetapi untuk sebuah kebanggaan yang tak ternilai untuknya. You are my superhero, karena superman superhero idolaku, hanya fiksi, sedangkan engkau, adalah nyata bagiku. Jangan berhenti membimbingku, teruslah berikan nasihat untuk kehidupanku yang baik.

Abangku, kau telah memberikan contoh yang baik kepadaku sebagai panutan dalam satu hubungan darah. Kau juga seperti bapak, memberikan nasihat saat aku berbuat salah. Selalu memberikan uang jajan jika menjengukku di perantauan walau tidak banyak. Dan kini, kau telah sukses menjadi seorang imam untuk keluargamu.

Kakak, kasih sayangmu seperti ibu, selalu memerhatikan aku, tingkah laku ku, agar aku tak terjerumus ke masa kelam. Teruslah seperti itu. Karena kau kini sudah berkeluarga, aku takut tak ada lagi kasih sayang kau berikan untuk adikmu. Jadilah ibu yang baik, seperti ibu kita.

Kawan-kawan, kalian penghiburku disaat aku merasa gundah. Tak hanya keluarga, kalian juga berkontribusi dalam kehidupanku. Berkontribusi dalam hal baik dan buruk, karena baik buruk tak bisa diukur. Terimakasih atas dukungan kalian untuk memotivasiku menuju kesuksesan.

Sahabatku. Ah, ini terlalu formal seperti perempuan saja. Lebih baik aku memanggil kalian kampretku. Kalian para kampret, tak pernah jauh dariku, kalian penghiburku saat aku susah, kalian tetap berbagi denganku. Walau paragraf memuji ini hanya hiburan buat kalian saja, tetapi kalian memang kampretku yang aku senangi. Sukses untuk kita.

Terimakasih untuk orang-orang di sekitarku, yang sempat menemani hari-hariku hingga aku bisa merasakan hari kedelapan ribu empat ratus satu ini. Memang tak ada perubahan istimewa hari ini, tetap saja hari Kamis. Mungkin saja tepat pada Kamisan dan malam Jumat pada malamnya.

Indonesia, terimakasih sudah memberikan tanah, air, udara, dan api, walau bukan Avatar The Legend Of Aang yang kau berikan. Aku sangat mencintai negeri ini, walau sistem dalam negeri ini masih kacau. Jangan usir aku dari negeri ini, beri aku ruang untuk hidup. Aku takut jika aku menulis ini, aku dideportasi ke negara antah berantah, beruntung jika ke negeri kahyangan Ramayana.

Tuhan, kenapa aku letakkan Kau di paragraf sesudah para manusia? Karena aku pasti mati, dan aku ingin mengucapkan nama-Mu di akhir nafasku. Biarlah Pancasila meletakkan nama-Mu di awal, karena itu ideologi. Tidak denganku yang diakhir, karena aku sangat ingin mati dalam keadaan menyebut nama-Mu, menyebut nama-nama indah-Mu yang sembilan puluh sembilan itu. Tak ada penolong memang jika aku tak melakukan kebaikan dan menjalankan perintahmu dan menjauhi laranganmu, tetapi setidaknya ada kompensasi untukku saat aku menyebut nama-Mu diakhir hayatku. Tuhan, Kau memang tak berwujud, dosa jika aku mengandaikan rupa-Mu, tapi sungguh, aku masih ingin hidup lebih lama lagi. Walau sudah hari kedelapan ribu empat ratus satu, kau memberikan jatah nafasku. Izinkan aku untuk menikmati hari-hariku, kalau bisa tambahkan 20.000 hari lagi, agar aku memiliki kesempatan untuk lebih banyak bertaubat. Tuhan, tetap ada nama-Mu di hati kosongku ini, karena aku sisihkan nama-nama setelah keluargaku di samping nama-Mu. Aku tetap percaya, tak ada Tuhan selain Allah. Aku pun masih percaya bahwa Muhammad adalah utusan terakhir-Mu. Engkaulah pemberi nafasku, pemberi kehidupan, pencipta alam semesta. Merugi jika aku tak memuji-muji-Mu walau Kau tak meminta pujian.

Oh iya, bagi yang ingin memberikan kado, aku takkan bisa menolak. Karena aku tau susahnya kalian memberikan kado itu. Jika tak ada yang memberikan kado, ya sudah. maklumkan saja karena sudah tua. Mungkin itu alasannya.

Terimakasih untuk kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca bacaan konyol ini. Tetapi tidak semuanya konyol, mungkin hanya aku saja yang konyol membuat kata-kata yang konyol. Itulah aku, hidup dalam kekonyolan lingkungan. Semoga aku masih bisa diberikan kesempatan yang lama untuk membuat tulisan yang tidak konyol lagi. Salam Konyol Damai (SKD)


Kamis, 30 Oktober 2014

Gonjang-ganjing Moratorium PNS Membuat Resah

Halo selamat membaca kembali konyolers. Lumayan lama juga saya tidak menulis di lembaran elektronik ini. Maklum, sibuk dengan pekerjaan dan tugas kuliah yang membuat mumet otak. Walaupun begitu, tapi saya tetap aktif kok menulis. Ya, menulis status di BBM atau Facebook. Hehe.
Kebetulan momen yang ingin saya tulis ini merupakan mindset kebanyakan teman saya, mungkin juga anda. Bisa jadi ini pengaruh dari keluarga anda atau tuntutan keluarga, bisa juga karena niat anda sendiri karena melihat enaknya. Saya ingin menuliskan beberapa keluh kesah teman BBM dan Facebook saya tentang kebijakan Moratorium PNS selama 5 tahun oleh pemerintahan Jokowi. Mungkin karena PNS itu menjanjikan di hari tuanya atau juga karena kerjanya yang kita lihat santai tapi tiap bulannya bergaji kali ya? Hehe. Tapi apakah kalian tidak pernah berpikir untuk menjadi pedagang, penulis, ataupun kolektor? Mungkin pernah, tapi sebagian saja. Coba bayangkan kalau kita yang melimpah ini, berkarya, menciptakan usaha sendiri walau kecil-kecilan, bisa juga menciptakan lagu walau orang lain tidak tahu judul lagu dan lirik yang kita buat. Hehe. Ah sudahlah, lupakan masalah itu.
Kembali ke masalah yang ingin saya sampaikan. Cekidot! Begini. Menurut saya, menjadi PNS bukanlah sebuah pekerjaan yang mustahil. Tidak salah jika seseorang ingin menjadi PNS. Lebih bagus lagi jika dia seorang PNS yang benar-benar mengabdi pada negara dan lebih luar biasa lagi jika ditambah dengan penciptaan lapangan kerja bagi lingkungan sekitarnya. Ya sedikit sih yang kayak gitu, hehe. Sedikit itu mungkin karena kebanyakan orang ataupun yang sudah menjadi calon PNS kurang mengerti esensi pekerjaan sebagai PNS. PNS itu kan tugasnya mengabdi pada negara, tapi kenapa banyak yang kita lihat PNS malas-malasan? Ya karena tak mengerti esensi pekerjaan makanya seperti itu. Akhirnya banyak pemudaanak SMA dan mahasiswa khususnya teman sayayang menduga betapa enaknya menjadi PNS. Asal kita mau berusaha dan belajar, tak ada yang perlu ditakuti untuk pekerjaan kita kelak entah sebagai PNS atau swasta. Yang perlu kita kedepankan adalah cara kita untuk membangun bangsa ini, mengabdi pada bangsa.
Kita ambil contoh, seorang guru (yang PNS bukan yang swasta) yang mengajar di sebuah sekolah misalnya saja SD. Pendidikan dasar ini merupakan pendidikan utama di Indonesia, karena itu guru harus giat dan sepenuh hati untuk mengajar murid-muridnya. Bukan begitu Bung Toel? Hehe. Pengalaman saya saat SD, guru bisa saja masuk untuk mengajar seenaknya. Maksudnya guru bisa mengajar atau tidak tergantung moodnya guru. Kalau sedang malas, guru tidak mengajar. Kalau lagi rajin, guru akan mengajar. Terus, dampaknya pada murid. Murid akan beranggapan betapa enaknya menjadi guru. Tidak mengajar tapi gaji jalan terus. Berbeda dengan guru swasta atau honorer, jika tidak mengajar, gajinya dipotong oleh yayasan. Kemudian saat murid di rumah. Kebetulan orangtuanya adalah PNS. Saat di rumah (kalo SD pulangnya jam 10-12), si anak (menggantikan posisi murid hehe) melihat orangtuanya tidak ke kantor padahal bukan hari libur atau jam istirahat. Padahal di rumah orangtua yang memberikan pendidikan secara nyata. Masa’ orangtua memberikan contoh yang malas. Akhirnya si anak akan beranggapan kalau menjadi PNS bisa santai di rumah, cuma isi absen terus pulang dan santai. Inilah yang menjadi motivasi anak-anak untuk menjadi PNS.
Mungkin sama halnya dengan yang dirasakan oleh teman-teman saya yang kecewa karena moratorium itu. Tapi alangkah indahnya jika kita menyikapi kebijakan itu dengan berusaha berkarya. Menjadi pedagang, penulis, kolektor, dan lain sebagainya juga berkarya dalam bidangnya, PNS juga.
Tidak mati kok kalau kita tidak menjadi PNS. Apalagi kebanyakan teman saya sedang menempuh strata satu di perguruan tinggi. Pastinya sudah dibekali pendidikan di bidangnya masing-masing. Selain pendidikan, pengalaman juga sudah mumpuni saat berorganisasiwalaupun masih banyak juga teman saya yang tidak pernah memasuki ruang lingkup organisasi secara nyata—di dalam kampus atau di luar kampus. Karena pendidikan dan pengalaman masih dirasa kurang, makanya kita mesti memiliki keahlian. Keahlian ini tidak hanya pada bidang atau jurusan yang kita dalami, bisa juga di bidang lainnya. Misalnya saja mahasiswa jurusan arsitek, dia memiliki keahlian di bidang jurnalis. Atau mahasiswa keguruan memiliki keahlian dalam wirausaha. Itulah bekal untuk menghadapi tuntutan zaman.
Masih takut untuk hidup jika tidak menjadi PNS? Ya masih lah, karena kebanyakan kitasebagai mahasiswa khususnyakebanyakan belum memiliki skill atau keahlian dan pengalaman karena kita hanya mengejar nilai dan mindset kuno kita untuk menjadi PNS masih membelenggu. Coba tanya ke beberapa teman anda, ingin kerja dimana setelah lulus kuliah? Pastinya mau kerja di dinas atau instansi pemerintah dong. Jarang sekali yang ingin membuat inovasi baru membuka lapangan kerja atau membuka usaha sendiriwalau banyak mahasiswa desain yang punya niat membuka usaha sendiri. Itu karena mindset dan lingkungan kitakeluarga yang menuntut kita untuk menjadi PNSsehingga kita kuliah berorientasi pada kerja sebagai PNS.
Coba saja kita belajar dari pendiri google, dua orang mahasiswa yang berpikir untuk mendirikan pencarian dan penyimpanan file hingga akhirnya bisa sebesar sekarang. Atau ambil contoh kisah sukses Mark Zuckerberg yang sukses membuat Facebook. Lebih dekat lagi Andy F. Noya seorang pimpinan redaksi di stasiun televisi swasta yang sukses karena skill di bidang jurnalisnya hingga beliau bisa membawa acara reality show khusus dirinya yang membawakan sendiri. Nama Emha Ainun Najib juga banyak dikenal orang walau dirinya hanya kuliah tiga bulan saja. Walaupun mereka seperti itumenempuh pendidikan tidak sampai menyandang gelar, kita harus belajar dari pengalaman mereka dan pengalaman kita juga. Sangat minim sekali jika kita berpikiran bahwa orang yang tak berijazah sarjana saja bisa sukses masa’ kita tidak jika kita tanpa usaha untuk meraih kesuksesan.
Tak ada yang perlu ditakuti untuk tidak menjadi PNS jika kita memiliki skill dan pengalaman selain nilai yang kita kejar di kampus. Nilai yang kita kejar hanya penolong kita untuk melamar kerja karena bisa saja nilai “kasihan” dari dosen yang kita dapat selama kuliah. Percuma saja nilaiindeks prestasi kumulatif kalau dalam perguruan tinggikita 3,5 jika saat implementasi pekerjaan kita jauh dari nilai yang kita dapat di bangku kuliah. Sangat disayangkan jika terjadi seperti itu.
Yang perlu diketahui juga, skill dan pengalaman juga masih perlu ditambah dengan pengetahuan kita tentang dunia kerja diluar bidang kitawalau skill termasuk pengetahuan diluar bidang kita. Misalnya pengetahuan tentang berwirausaha. Kita bisa menambah wawasan kita dengan membaca buku-buku wirausaha, karena wirausaha biasanya adalah pilihan terakhir kita untuk tidak menjadi pengangguran. Banyak mahasiswa di pulau Jawa yang berwirausaha selain sebagai mahasiswa ataupun setelah menjadi alumni. Bukan suatu pekerjaan yang tidak mulia sebagai wirausahawan (kecuali berwirausaha narkoba hehe), bahkan jika usahanya sukses, malah bisa membuka lapangan kerja untuk lingkungan sekitarnya. Buang jauh-jauh pikiran bahwa “tak akan hidup jika tidak menjadi PNS” atau “sengsara di hari tua jika menjadi swasta”, itu masalah kemampuan kita menyikapi finansial kita sendiri. Tirulah cara hidup orang China yang hidup seadanya jika masih dibawah, tidak memaksakan diri untuk bermewahan.
Makanya saya sangat beruntung saat kuliah di kampus pertama saya pernah belajar tentang kewirausahaan. Mata kuliah ini memberikan bekal kepada mahasiswa sebagai “cadangan” jika kita tidak bisa melamar pekerjaan yang sesuai bidang kita. Hingga kini saya sering membaca artikel tentang berwirausaha walau saya belum sepenuhnya menjalankan kegiatan itu. Saya tidak takut jika saya tidak menjadi PNS karena saya sudah ada bekal dari pengetahuan berwirausaha dan masih mengejar skill serta pengalaman. Saat ini, saya mengajak teman-teman untuk mulai belajar berwirausaha dan berkarya sambil mengasah skill dan mencari pengalaman selama kita mengejar nilai. Tak ada yang mustahil jika kita berusaha. Mau menjadi PNS, pejabat, dokter, wirausahawan, penulis, atau apapun itu, tergantung pada pilihan dan jalan hidup kita. Anda memilih menjadi PNS, bersungguh-sungguhlah mengabdi pada negara karena PNS adalah abdi negara. Jika anda memilih sebagai dokter, seriuslah dalam pekerjaan menangani hidup mati orang lain. Anda memilih sebagai wirausahawan, tekunlah bekerja jangan sampai merugikan orang lain atau malah merugikan diri anda sendiri.

Ah sudahlah, saya ingin mengakhir tulisan ini, jangan ditanggapi jika tidak bersentuhan dengan anda hehe, silakan berikan kritikan disertai saran mengenai pikiran-pikiran saya ini, agar saling membuka pikiran-pikiran kita yang masih membelenggu. Tulisan saya ini bukan sebuah motivasi atau kata-kata bijak, tapi hanya kekalutan saya dengan keinginan kebanyak teman yang ingin menjadi PNS tanpa menjunjung tinggi esensi sebagai abdi negara. Masih banyak pekerjaan lain selain PNS kok. Hehe. Akhirnya pada penghujung tulisan, saya mengucapkan terimakasih atas permasalahan ini dan anda yang berkenan membaca. Indonesia Raya dan Salam Konyolers Damai (SKD).

Sabtu, 13 September 2014

Kekonyolan Itu Memberikan Ide.

Sudah lama rasanya tidak menulis. Mungkin dikarenakan banyaknya kesibukan saya, tapi saya rasa saya tidak sesibuk mereka yang benar-benar sangat sibuk. Alasan yang tepat saya lama tak menulis adalah karena momen yang selama ini saya lalui sangat menyenangkan sehingga saya lupa untuk menuangkan ke dalam pikiran untuk dijadikan sebuah gagasan.
Yang pertama momen yang saya lewatkan untuk menulis adalah pesta rakyat.Ya, saat semua orang Indonesia sibuk memilih jagoan mereka untuk memimpin daerah bahkan negara ini. Saat 9 April 2014 rakyat Indonesia memilih anggota leslatif. Sebenarnya tidak terlalu penting sih, karena memilih anggota legislatif mesti membuka beberapa lembar surat suara untuk dicoblos dan itu cukup membuat saya pusing untuk memilih para caleg yang bohay nan seksi. Kemudian 9 Juli 2014, pemilihan Presiden Republik Indonesia, yang masa kampanyenya begitu membuat saya muak. Ya, kampanye yang penuh fitnah dan hampir membuat pecah belah. Sungguh memuakkan saat itu, tapi aku memilih satu diantara 2 pasangan capres tersebut. Yaitu, maaf ini masih rahasia, hehe.
Yang kedua, saat penetapan presiden terpilih. Penuh kontroversi dan drama saat itu, bagaikan telenovela ala Indonesia. Mungkin Anda melihat juga di TV saat persidangan Mahkamah Konstitusi. Apa tanggapan anda? Saya pikir kekonyolan yang ditampilkan merupakan murni dari pemain persidangan itu. Di luar persidangan, para konyolers pendukung salah satu calon presiden yang gagal dan masih menginginkan calon tersebut terpilih sebagai presiden, cukup membuat saya prihatin akan kebesaran hati. Mereka yang berorasi menuntut keadilan katanya, tapi tindakan yang konyol, sangat memprihatinkan. Hanya ingin mendapatkan makanan produk asing yang katanya jagoan mereka adalah ANTI ASING. Bullshit! Maaf, bukan menghina, tapi itulah realita yang saya lihat.
Selanjutnya, yang ketiga adalah ujian akhir semester. Ada satu mata kuliah yang membuat saya menekuninya, yaitu Dramaturgi. Entah apa yang membuat saya begitu tertarik untuk menekuninya. Mungkin karena saya sangat menyukai bermain peran layaknya politisi yang banyak macam mukanya, hehe. Saat mata kuliah ini, saya beserta teman sekelas diberi peran untuk bermain dan itu dipentaskan untuk umum. Sungguh membuat saya ingin mengulanginya, tapi bukan dengan cara mendapat nilai akhir D ataupun E. Karena saya sangat menyukai karya orang dibandingkan karya saya, jadi saya banyak menyukai mata kuliah yang mendalami sastra, walaupun ada mata kuliah pendalaman sastra yang nilainya E, hehe (saya tak akan menceritakan kenapa bisa seperti itu :p).
Yang terakhir (mungkin), awal saya bekerja di semester baru (cieee yang kerja). Ya, saya ditawari oleh sepupu saya untuk membantu pekerjaan dia, karena itu keinginan saya sejak pertama kuliah, tak mungkin saya menolak. Selain mencari pengalaman kerja sebelum memasuki pekerjaan dan tantangan hidup yang sesungguhnya, jadi saya belajar dulu di perusahaan paman-adik ibu saya-yang kebetulan juga saya menumpang tinggal di rumah beliau. Awal masuk kerja tidaklah begitu sulit, namun cukup membingungkan bagi saya yang memang sering lupa proses. Maklum, akibat jarang mengasah otak, hehe. Pekerjaan saya di kantor awalnya adalah menginput data keluar-masuk produk yang kami jual. Tidak begitu sulit kan? Jadi saya hanya duduk di kursi dan memainkan jari di keyboard laptop, sambil online dan belajar menulis cerita di blog. Hehe.
Mungkin terlihat begitu konyol tulisan saya ini, tapi itulah faktanya bahwa kekonyolan dapat membuat kita lupa untuk mempublikasikannya melalui sebuah tulisan. Terkadang hanya bisa diungkapkan melalui lisan saja. Tulisan ini hanya bentuk pembelajaran bagi saya untuk lebih baik lagi dalam menulis. Demikianlah untuk kalian para konyolers yang sudah membaca, terima kasih. Salam Konyol Damai (SKD).

Senin, 30 Desember 2013

Presidensial, Bukan Presiden Sial dan Bukan Penjilat Ludah!

Pada awal tahun 2014, sistem Jaminan Kesehatan Nasional akan dilaksanakan di Negeri ini. Melihat sistem dan proses kesehatan yang ada, mungkin sekitar 7-10% saja puskesmas yang memiliki dokter. Mungkin saja kendalanya adalah daerah yg sulit di jangkau. Tapi menurut saya tidak menutup kemungkinan para dokter harus bertugas disana karena mereka adalah pahlawan nyawa berjubah putih.
Sistem Jaminan Kesehatan Nasional ini sudah diumumkan oleh presiden terhormat Susilo Bambang Yudhoyono pada bulan Agustus lalu. Beliau mengatakan kalau orang kaya atau orang mampu jangan sedikit-sedikit sakit berobat ke luar negeri. Dan saya sangat mengapresiasi perkataan beliau saat itu. Tetapi berubah pandangan saya terhadap beliau yang kelihatan tidak konsisten, penjilat ludah. Kenapa? Karena beberapa waktu lalu beliau mengisyaratkan bahwa para menteri/pejabat negara/pejabat tinggi jika sakit berobat ke luar negeri dg gratis. Anggarannya tidak sedikit bung. Bayangkan jika satu menteri beserta satu istri dan dua anak dikalikan beberapa menteri yang menjabat. Bisa jadi mencapai 1 Trilyun. Bisa untuk anggaran logistik, pendidikan atau lainnya.
Alangkah baiknya jika Pak Presiden yang terhormat itu memberikan pengobatan gratis kepada orang kurang mampu dan para pejabat yang sakit mencoba untuk berobat di puskesmas yang tidak ada dokternya. Agar bisa merasakjgaan juga kebersamaan insani di negeri yang katanya sudah berkembang ini.
Semoga Pak Presiden yang terhormat sempat membuka blog saya ini. Membuka unek-unek saya dan memerintahkan saya mengganti menteri yang masuk daftar berobat gratis. Semoga saja :)

Jumat, 13 Desember 2013

Hei Kawan, Apa Kabarmu Di Sana?

Ketika kau tak lagi bersama kami, ketika kau mendahului kami kembali ke sang Pencipta, kami sangat kehilangan dan sedih, terkadang juga bangga. Ya, bangga karena kau mampu melawan sakit yang kau derita itu. Selama bertahun-tahun kita bersama, bersenda gurau, berkreasi, kau tidak pernah mengeluh akan sakit yang kau derita. Kami sedih karena harus kehilangan dirimu yang sangat bermakna diantara kami. Kami kehilangan sosok yang kami hormati. Bertahan dalam waktu sekitar 2 tahun, berjuang sendiri untuk sakit yang kau derita tanpa kami ketahui. Itu sungguh tindakan konyol darimu, tapi kami salut kau bisa seperti itu. Kami salut karena kami mungkin tidak bisa sepertimu, yang mencoba terlihat sehat walau sebenarnya kau sakit. Masih terngiang dalam ingatanku saat kau bercanda, tertawa, serius, dan saat-saat bersama kami. Kau juga lah mentorku, mentor kami, sahabatku, sahabat kami, keluargaku dan keluarga kami.
Kini, kau telah berada di alam lain, bersama para malaikat dan mungkin juga bersama orang yang aku kenal yang telah mendahului kami. Selamat istirahat di alam sana kawan kami, Edward, selalu kami kenang saat-saat bersamamu :)


Senin, 09 Desember 2013

9-10, Beda Tipis Lah.

Korupsi? Koruptor? Ah, korupsi itu merupakan hak setiap manusia, karena berdampingan. Alasannya peringatan Hari Korupsi dan Hak Asasi Manusia hanya selisih 24 jam. Korupsi merupakan hak karena ya itu, hak. Contohnya saya yang telat ngampus, itu hak saya mau telat atau cepat, tapi sudah termasuk korupsi. Korupsi waktu. Kemudian jika koruptor di hukum mati, kan ada Hak Asasi Manusia, manusia berhak untuk hidup. Saya semakin bingung jika keduanya dikaitkan. Satu sisi, kosupsi salah, sisi lainnya hukuman mati menyalahi hak manusia untuk hidup. Seperti yang kita ketahui, tanggal 9 Desember adalah peringatan Hari Korupsi Sedunia dan 10 Desember merupakan Hari Hak Asasi Manusia. Sungguh berdekatan bukan? Selanjutnya bagaimana Hak Asasi Manusia di Indonesia, apakah sudah memiliki hak sepenuhnya? Saya rasa tidak. Banyak persoalan di negri ini yang sangat bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Manusia berhak untuk hidup, mengelola sumber daya alam dan isinya, berhak untuk mengeluarkan pendapat, berhak memilih keyakinan dan masih banyak lagi hak-hak manusia lainnya. Tetapi di Indonesia, hak manusia banyak dirampas oleh orang tak mengenal dosa. Hak untuk mengelola Sumber Daya Alam beserta isinya misalnya, sudah hilang haknya kan?Semua orang di dunia tahu bahwa hutan kita adalah paru-paru dunia, tetapi kini mungkin sudah sedikit dan tidak tertutup kemungkinan akan hilang julukan tersebut. Ini karena orang tak bertanggung jawab sudah merampas hak masyarakat lokal untuk mengelola hutan tersebut. Kini masyarakat lokal akan tersisih karena akan banyaknya gedung-gedung tinggi, mal-mal bertaburan, perkantoran, bahkan perkebunan monokultur merupakan penyebab utamanya. Masyarakat lokal tidak mempunyai hak lagi untuk mengelola hutan mereka, hak mereka sudah diambil alih oleh bajingan asing, pejabat negara, pejabat daerah setempat, dan oknum yang tak bertanggung jawab. Hebatnya lagi, walau mereka sudah berusaha untuk mengembalikan hak mereka untuk mengelola, tetap saja keadilan di negri ini masih memihak yang berkantong tebal. Kemudian hak untuk hidup, aktivis HAM bagaimana? Dia berjuang untuk menegakkan HAM di negri ini malah di bunuh. Sungguh ironi yang benar-benar membuat hati ini teriris. Semoga Korupsi dan Hak Asasi Manusia di negri ini bisa di tegakkan, maksudnya korupsi bisa di berantas dan Hak Asasi Manusia tetap berdiri tegak. Selamat jalan Munir dan matilah kau KORUPTOR!