Tri Utomo Hadi (DonCuan)
Berusaha peduli walaupun kelihatan tak peduli, mari berpetualang, hidup mandiri dan menikmati hidup dengan musik metal dan alam yang telah diberikan Tuhan. Berusaha menjaga alam dan isi untuk masa depan kehidupan.
Jumat, 14 November 2014
Mereka Lebih Konyol Dari Aku
Baru saja aku menapaki hidup ke 8.401 kemarin. Baru memasuki babak baru dalam usia yang sudah uzur. Ah, kisah hidupmu tak semulus kisah hidupku yang seperti jalanan menuju kampung halamanku nun jauh di hulu sebuah provinsi di Kalimantan.
Kamis, 13 November 2014
MENULIS SUATU KEKONYOLAN
Tak terasa, kini aku hidup sudah lebih dari delapan ribu hari,
tepatnya 8.401 hari. Artinya sudah memasuki tahun kedua puluh tiga. Lumayan tua
dan lama juga hidup di dunia yang fana menurut manusia yang kurang mengerti
esensi kehidupan. Kehidupan yang ku jalani selama ini belumlah bisa dikatakan
cukup baik untuk seorang agamis dan nasionalis. Aku masih berlumur dosa jika memakai
kata yang berlebihan untuk sifat religius, aku juga masih banyak melanggar
aturan untuk nasionalis diri.
Kini, aku sudah tak muda lagi walau belum dikatakan tua seperti
bapak. Tetapi semangatku untuk lebih maju dari mereka masih berkobar, semangat
untuk menuju kesuksesan dunia, belum pada akhirat. Meskipun kesuksesan untuk
akhirat masih tersimpan dalam niat.
Hari-hariku dulu memang tak mulus, memang banyak dosa yang aku
buat. Tetapi ingatlah, jika aku tak mau hidup dalam lingkaran masa lalu. Biarlah
kelam itu sebagai pelajaran bagiku, tidak untuk jalanku yang menuju sukses.
Ibuku, telah melahirkanku dan merawatku hingga usiaku menginjak
usia 20 tahun. Saat itu Tuhan memang ingin bertemu dengannya, ingin melihat
seorang ibu yang penuh kasih dan sayang, penuh cinta pada anaknya, tetapi tidak
melebihi Ar-Rahman dan Ar- Rahim dari sang pencipta. Ibu masih ada dalam
hatiku, karena memang belum ada perempuan sebaya atau setengah baya yang
mengisi kosongnya hatiku. Mungkin kalimat tadi hanya candaan, biar yang membaca
tidak menangis, aku buatkan sedikit guyonan. Tak ada kata yang buruk mengenai
ibu, karena dia Ibuku, bukan Ibumu. Terimakasih ibu.
Bapak, sama dengan ibu, tak ada kata yang buruk untuknya. Bapak
yang masih bisa menemaniku di hari tuanya, masih bekerja untuk menyekolahkan
aku. Masih selalu ku dengar nasihat beliau saat aku berada di rumah. Maafkan anakmu
ini, yang masih suka melanggar nasihatmu, masih suka membohongimu. Pasti aku
menyesal tak mengindahkan nasihat-nasihatmu. Tetaplah kuat, tetaplah semangat,
tetaplah mengirim uang untuk anakmu di perantauan pak. Karena bapakku pasti
ingin melihatku memakai jas, toga, dan sebuah plakat yang diberikan oleh
kampus, berfoto bersama beliau, dan dipajang di dinding ruang tamu. Pastinya beliau
ingin menunjukkan pada teman-temannya, bahwa dia telah sukses mendidik
anak-anaknya, sukses menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Bukan
untuk pamer, tetapi untuk sebuah kebanggaan yang tak ternilai untuknya. You are
my superhero, karena superman superhero idolaku, hanya fiksi, sedangkan engkau,
adalah nyata bagiku. Jangan berhenti membimbingku, teruslah berikan nasihat
untuk kehidupanku yang baik.
Abangku, kau telah memberikan contoh yang baik kepadaku sebagai
panutan dalam satu hubungan darah. Kau juga seperti bapak, memberikan nasihat
saat aku berbuat salah. Selalu memberikan uang jajan jika menjengukku di
perantauan walau tidak banyak. Dan kini, kau telah sukses menjadi seorang imam
untuk keluargamu.
Kakak, kasih sayangmu seperti ibu, selalu memerhatikan aku,
tingkah laku ku, agar aku tak terjerumus ke masa kelam. Teruslah seperti itu. Karena
kau kini sudah berkeluarga, aku takut tak ada lagi kasih sayang kau berikan
untuk adikmu. Jadilah ibu yang baik, seperti ibu kita.
Kawan-kawan, kalian penghiburku disaat aku merasa gundah. Tak hanya
keluarga, kalian juga berkontribusi dalam kehidupanku. Berkontribusi dalam hal
baik dan buruk, karena baik buruk tak bisa diukur. Terimakasih atas dukungan
kalian untuk memotivasiku menuju kesuksesan.
Sahabatku. Ah, ini terlalu formal seperti perempuan saja. Lebih baik
aku memanggil kalian kampretku. Kalian para kampret, tak pernah jauh dariku,
kalian penghiburku saat aku susah, kalian tetap berbagi denganku. Walau paragraf
memuji ini hanya hiburan buat kalian saja, tetapi kalian memang kampretku yang
aku senangi. Sukses untuk kita.
Terimakasih untuk orang-orang di sekitarku, yang sempat menemani
hari-hariku hingga aku bisa merasakan hari kedelapan ribu empat ratus satu ini.
Memang tak ada perubahan istimewa hari ini, tetap saja hari Kamis. Mungkin saja
tepat pada Kamisan dan malam Jumat pada malamnya.
Indonesia, terimakasih sudah memberikan tanah, air, udara, dan
api, walau bukan Avatar The Legend Of Aang yang kau berikan. Aku sangat
mencintai negeri ini, walau sistem dalam negeri ini masih kacau. Jangan usir
aku dari negeri ini, beri aku ruang untuk hidup. Aku takut jika aku menulis
ini, aku dideportasi ke negara antah berantah, beruntung jika ke negeri
kahyangan Ramayana.
Tuhan, kenapa aku letakkan Kau di paragraf sesudah para manusia? Karena
aku pasti mati, dan aku ingin mengucapkan nama-Mu di akhir nafasku. Biarlah
Pancasila meletakkan nama-Mu di awal, karena itu ideologi. Tidak denganku yang
diakhir, karena aku sangat ingin mati dalam keadaan menyebut nama-Mu, menyebut
nama-nama indah-Mu yang sembilan puluh sembilan itu. Tak ada penolong memang
jika aku tak melakukan kebaikan dan menjalankan perintahmu dan menjauhi
laranganmu, tetapi setidaknya ada kompensasi untukku saat aku menyebut nama-Mu
diakhir hayatku. Tuhan, Kau memang tak berwujud, dosa jika aku mengandaikan
rupa-Mu, tapi sungguh, aku masih ingin hidup lebih lama lagi. Walau sudah hari
kedelapan ribu empat ratus satu, kau memberikan jatah nafasku. Izinkan aku
untuk menikmati hari-hariku, kalau bisa tambahkan 20.000 hari lagi, agar aku
memiliki kesempatan untuk lebih banyak bertaubat. Tuhan, tetap ada nama-Mu di
hati kosongku ini, karena aku sisihkan nama-nama setelah keluargaku di samping
nama-Mu. Aku tetap percaya, tak ada Tuhan selain Allah. Aku pun masih percaya
bahwa Muhammad adalah utusan terakhir-Mu. Engkaulah pemberi nafasku, pemberi
kehidupan, pencipta alam semesta. Merugi jika aku tak memuji-muji-Mu walau Kau
tak meminta pujian.
Oh iya, bagi yang ingin memberikan kado, aku takkan bisa menolak. Karena aku tau susahnya kalian memberikan kado itu. Jika tak ada yang memberikan kado, ya sudah. maklumkan saja karena sudah tua. Mungkin itu alasannya.
Terimakasih untuk kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca
bacaan konyol ini. Tetapi tidak semuanya konyol, mungkin hanya aku saja yang
konyol membuat kata-kata yang konyol. Itulah aku, hidup dalam kekonyolan
lingkungan. Semoga aku masih bisa diberikan kesempatan yang lama untuk membuat
tulisan yang tidak konyol lagi. Salam Konyol Damai (SKD)
Kamis, 30 Oktober 2014
Gonjang-ganjing Moratorium PNS Membuat Resah
Halo selamat membaca kembali konyolers. Lumayan
lama juga saya tidak menulis di lembaran elektronik ini. Maklum, sibuk dengan
pekerjaan dan tugas kuliah yang membuat mumet otak. Walaupun begitu, tapi saya
tetap aktif kok menulis. Ya, menulis status di BBM atau Facebook. Hehe.
Kebetulan momen yang ingin saya tulis ini
merupakan mindset kebanyakan teman saya, mungkin juga anda. Bisa jadi ini
pengaruh dari keluarga anda atau tuntutan keluarga, bisa juga karena niat anda
sendiri karena melihat enaknya. Saya ingin menuliskan beberapa keluh kesah
teman BBM dan Facebook saya tentang kebijakan Moratorium PNS selama 5 tahun
oleh pemerintahan Jokowi. Mungkin karena PNS itu menjanjikan di hari tuanya
atau juga karena kerjanya yang kita lihat santai tapi tiap bulannya bergaji
kali ya? Hehe. Tapi apakah kalian tidak pernah berpikir untuk menjadi pedagang,
penulis, ataupun kolektor? Mungkin pernah, tapi sebagian saja. Coba bayangkan
kalau kita yang melimpah ini, berkarya, menciptakan usaha sendiri walau
kecil-kecilan, bisa juga menciptakan lagu walau orang lain tidak tahu judul
lagu dan lirik yang kita buat. Hehe. Ah sudahlah, lupakan masalah itu.
Kembali ke masalah yang ingin saya sampaikan. Cekidot!
Begini. Menurut saya, menjadi PNS bukanlah sebuah pekerjaan yang mustahil. Tidak
salah jika seseorang ingin menjadi PNS. Lebih bagus lagi jika dia seorang PNS
yang benar-benar mengabdi pada negara dan lebih luar biasa lagi jika ditambah
dengan penciptaan lapangan kerja bagi lingkungan sekitarnya. Ya sedikit sih
yang kayak gitu, hehe. Sedikit itu mungkin karena kebanyakan orang ataupun yang
sudah menjadi calon PNS kurang mengerti esensi pekerjaan sebagai PNS. PNS itu
kan tugasnya mengabdi pada negara, tapi kenapa banyak yang kita lihat PNS
malas-malasan? Ya karena tak mengerti esensi pekerjaan makanya seperti itu. Akhirnya
banyak pemuda—anak SMA dan mahasiswa khususnya teman saya—yang menduga betapa enaknya
menjadi PNS. Asal kita mau berusaha
dan belajar, tak ada yang perlu ditakuti untuk pekerjaan kita kelak entah
sebagai PNS atau swasta. Yang perlu kita kedepankan adalah cara kita untuk
membangun bangsa ini, mengabdi pada bangsa.
Kita ambil contoh, seorang guru (yang PNS bukan
yang swasta) yang mengajar di sebuah sekolah misalnya saja SD. Pendidikan dasar
ini merupakan pendidikan utama di Indonesia, karena itu guru harus giat dan
sepenuh hati untuk mengajar murid-muridnya. Bukan begitu Bung Toel? Hehe. Pengalaman
saya saat SD, guru bisa saja masuk untuk mengajar seenaknya. Maksudnya guru
bisa mengajar atau tidak tergantung moodnya
guru. Kalau sedang malas, guru tidak mengajar. Kalau lagi rajin, guru akan
mengajar. Terus, dampaknya pada murid. Murid akan beranggapan betapa enaknya
menjadi guru. Tidak mengajar tapi gaji jalan terus. Berbeda dengan guru swasta
atau honorer, jika tidak mengajar, gajinya dipotong oleh yayasan. Kemudian saat
murid di rumah. Kebetulan orangtuanya adalah PNS. Saat di rumah (kalo SD
pulangnya jam 10-12), si anak (menggantikan posisi murid hehe) melihat
orangtuanya tidak ke kantor padahal bukan hari libur atau jam istirahat. Padahal
di rumah orangtua yang memberikan pendidikan secara nyata. Masa’ orangtua
memberikan contoh yang malas. Akhirnya si anak akan beranggapan kalau menjadi
PNS bisa santai di rumah, cuma isi absen terus pulang dan santai. Inilah yang
menjadi motivasi anak-anak untuk menjadi PNS.
Mungkin sama halnya dengan yang dirasakan oleh
teman-teman saya yang kecewa karena moratorium itu. Tapi alangkah indahnya jika
kita menyikapi kebijakan itu dengan berusaha berkarya. Menjadi pedagang,
penulis, kolektor, dan lain sebagainya juga berkarya dalam bidangnya, PNS juga.
Tidak mati kok kalau kita tidak menjadi PNS. Apalagi
kebanyakan teman saya sedang menempuh strata satu di perguruan tinggi. Pastinya
sudah dibekali pendidikan di bidangnya masing-masing. Selain pendidikan,
pengalaman juga sudah mumpuni saat berorganisasi—walaupun masih banyak juga teman saya yang tidak pernah memasuki
ruang lingkup organisasi secara nyata—di
dalam kampus atau di luar kampus. Karena pendidikan dan pengalaman masih dirasa
kurang, makanya kita mesti memiliki keahlian. Keahlian ini tidak hanya pada
bidang atau jurusan yang kita dalami, bisa juga di bidang lainnya. Misalnya saja
mahasiswa jurusan arsitek, dia memiliki keahlian di bidang jurnalis. Atau mahasiswa
keguruan memiliki keahlian dalam wirausaha. Itulah bekal untuk menghadapi
tuntutan zaman.
Masih takut untuk hidup jika tidak menjadi PNS?
Ya masih lah, karena kebanyakan kita—sebagai mahasiswa khususnya—kebanyakan belum memiliki skill
atau keahlian dan pengalaman karena kita hanya mengejar nilai dan mindset kuno
kita untuk menjadi PNS masih membelenggu. Coba tanya ke beberapa teman anda,
ingin kerja dimana setelah lulus kuliah? Pastinya mau kerja di dinas atau
instansi pemerintah dong. Jarang sekali yang ingin membuat inovasi baru membuka
lapangan kerja atau membuka usaha sendiri—walau banyak mahasiswa desain yang punya niat membuka usaha
sendiri. Itu karena mindset dan lingkungan kita—keluarga yang menuntut kita untuk menjadi PNS—sehingga kita kuliah
berorientasi pada kerja sebagai PNS.
Coba saja kita belajar dari pendiri google, dua
orang mahasiswa yang berpikir untuk mendirikan pencarian dan penyimpanan file
hingga akhirnya bisa sebesar sekarang. Atau ambil contoh kisah sukses Mark
Zuckerberg yang sukses membuat Facebook. Lebih dekat lagi Andy F. Noya seorang
pimpinan redaksi di stasiun televisi swasta yang sukses karena skill di bidang jurnalisnya hingga
beliau bisa membawa acara reality show khusus
dirinya yang membawakan sendiri. Nama Emha Ainun Najib juga banyak dikenal
orang walau dirinya hanya kuliah tiga bulan saja. Walaupun mereka seperti itu—menempuh pendidikan tidak
sampai menyandang gelar—, kita harus belajar dari pengalaman mereka dan pengalaman kita
juga. Sangat minim sekali jika kita berpikiran bahwa orang yang tak berijazah sarjana
saja bisa sukses masa’ kita tidak jika kita tanpa usaha untuk meraih
kesuksesan.
Tak ada yang perlu ditakuti untuk tidak menjadi
PNS jika kita memiliki skill dan
pengalaman selain nilai yang kita kejar di kampus. Nilai yang kita kejar hanya
penolong kita untuk melamar kerja karena bisa saja nilai “kasihan” dari dosen
yang kita dapat selama kuliah. Percuma saja nilai—indeks prestasi kumulatif kalau dalam perguruan tinggi—kita 3,5 jika saat implementasi
pekerjaan kita jauh dari nilai yang kita dapat di bangku kuliah. Sangat disayangkan
jika terjadi seperti itu.
Yang perlu diketahui juga, skill dan pengalaman juga masih perlu ditambah dengan pengetahuan
kita tentang dunia kerja diluar bidang kita—walau skill termasuk
pengetahuan diluar bidang kita. Misalnya pengetahuan
tentang berwirausaha. Kita bisa menambah wawasan kita dengan membaca buku-buku
wirausaha, karena wirausaha biasanya adalah pilihan terakhir kita untuk tidak
menjadi pengangguran. Banyak mahasiswa di pulau Jawa yang berwirausaha selain
sebagai mahasiswa ataupun setelah menjadi alumni. Bukan suatu pekerjaan yang tidak
mulia sebagai wirausahawan (kecuali berwirausaha narkoba hehe), bahkan jika
usahanya sukses, malah bisa membuka lapangan kerja untuk lingkungan sekitarnya.
Buang jauh-jauh pikiran bahwa “tak akan hidup
jika tidak menjadi PNS” atau “sengsara di hari tua jika menjadi swasta”, itu
masalah kemampuan kita menyikapi finansial kita sendiri. Tirulah cara hidup
orang China yang hidup seadanya jika masih dibawah, tidak memaksakan diri untuk
bermewahan.
Makanya saya sangat beruntung saat kuliah di
kampus pertama saya pernah belajar tentang kewirausahaan. Mata kuliah ini
memberikan bekal kepada mahasiswa sebagai “cadangan” jika kita tidak bisa
melamar pekerjaan yang sesuai bidang kita. Hingga kini saya sering membaca
artikel tentang berwirausaha walau saya belum sepenuhnya menjalankan kegiatan
itu. Saya tidak takut jika saya tidak menjadi PNS karena saya sudah ada bekal
dari pengetahuan berwirausaha dan masih mengejar skill serta pengalaman. Saat ini, saya mengajak teman-teman untuk
mulai belajar berwirausaha dan berkarya sambil mengasah skill dan mencari pengalaman selama kita mengejar nilai. Tak ada
yang mustahil jika kita berusaha. Mau menjadi PNS, pejabat, dokter, wirausahawan,
penulis, atau apapun itu, tergantung pada pilihan dan jalan hidup kita. Anda memilih
menjadi PNS, bersungguh-sungguhlah mengabdi pada negara karena PNS adalah abdi
negara. Jika anda memilih sebagai dokter, seriuslah dalam pekerjaan menangani
hidup mati orang lain. Anda memilih sebagai wirausahawan, tekunlah bekerja
jangan sampai merugikan orang lain atau malah merugikan diri anda sendiri.
Ah sudahlah, saya ingin mengakhir tulisan ini,
jangan ditanggapi jika tidak bersentuhan dengan anda hehe, silakan berikan
kritikan disertai saran mengenai pikiran-pikiran saya ini, agar saling membuka
pikiran-pikiran kita yang masih membelenggu. Tulisan saya ini bukan sebuah
motivasi atau kata-kata bijak, tapi hanya kekalutan saya dengan keinginan
kebanyak teman yang ingin menjadi PNS tanpa menjunjung tinggi esensi sebagai
abdi negara. Masih banyak pekerjaan lain selain PNS kok. Hehe. Akhirnya pada
penghujung tulisan, saya mengucapkan terimakasih atas permasalahan ini dan anda
yang berkenan membaca. Indonesia Raya dan Salam Konyolers Damai (SKD).
Sabtu, 13 September 2014
Kekonyolan Itu Memberikan Ide.
Sudah lama rasanya tidak menulis. Mungkin dikarenakan banyaknya kesibukan saya, tapi saya rasa saya tidak sesibuk mereka yang benar-benar sangat sibuk. Alasan yang tepat saya lama tak menulis adalah karena momen yang selama ini saya lalui sangat menyenangkan sehingga saya lupa untuk menuangkan ke dalam pikiran untuk dijadikan sebuah gagasan.
Yang pertama momen yang saya lewatkan untuk menulis adalah pesta rakyat.Ya, saat semua orang Indonesia sibuk memilih jagoan mereka untuk memimpin daerah bahkan negara ini. Saat 9 April 2014 rakyat Indonesia memilih anggota leslatif. Sebenarnya tidak terlalu penting sih, karena memilih anggota legislatif mesti membuka beberapa lembar surat suara untuk dicoblos dan itu cukup membuat saya pusing untuk memilih para caleg yang bohay nan seksi. Kemudian 9 Juli 2014, pemilihan Presiden Republik Indonesia, yang masa kampanyenya begitu membuat saya muak. Ya, kampanye yang penuh fitnah dan hampir membuat pecah belah. Sungguh memuakkan saat itu, tapi aku memilih satu diantara 2 pasangan capres tersebut. Yaitu, maaf ini masih rahasia, hehe.
Yang kedua, saat penetapan presiden terpilih. Penuh kontroversi dan drama saat itu, bagaikan telenovela ala Indonesia. Mungkin Anda melihat juga di TV saat persidangan Mahkamah Konstitusi. Apa tanggapan anda? Saya pikir kekonyolan yang ditampilkan merupakan murni dari pemain persidangan itu. Di luar persidangan, para konyolers pendukung salah satu calon presiden yang gagal dan masih menginginkan calon tersebut terpilih sebagai presiden, cukup membuat saya prihatin akan kebesaran hati. Mereka yang berorasi menuntut keadilan katanya, tapi tindakan yang konyol, sangat memprihatinkan. Hanya ingin mendapatkan makanan produk asing yang katanya jagoan mereka adalah ANTI ASING. Bullshit! Maaf, bukan menghina, tapi itulah realita yang saya lihat.
Selanjutnya, yang ketiga adalah ujian akhir semester. Ada satu mata kuliah yang membuat saya menekuninya, yaitu Dramaturgi. Entah apa yang membuat saya begitu tertarik untuk menekuninya. Mungkin karena saya sangat menyukai bermain peran layaknya politisi yang banyak macam mukanya, hehe. Saat mata kuliah ini, saya beserta teman sekelas diberi peran untuk bermain dan itu dipentaskan untuk umum. Sungguh membuat saya ingin mengulanginya, tapi bukan dengan cara mendapat nilai akhir D ataupun E. Karena saya sangat menyukai karya orang dibandingkan karya saya, jadi saya banyak menyukai mata kuliah yang mendalami sastra, walaupun ada mata kuliah pendalaman sastra yang nilainya E, hehe (saya tak akan menceritakan kenapa bisa seperti itu :p).
Yang terakhir (mungkin), awal saya bekerja di semester baru (cieee yang kerja). Ya, saya ditawari oleh sepupu saya untuk membantu pekerjaan dia, karena itu keinginan saya sejak pertama kuliah, tak mungkin saya menolak. Selain mencari pengalaman kerja sebelum memasuki pekerjaan dan tantangan hidup yang sesungguhnya, jadi saya belajar dulu di perusahaan paman-adik ibu saya-yang kebetulan juga saya menumpang tinggal di rumah beliau. Awal masuk kerja tidaklah begitu sulit, namun cukup membingungkan bagi saya yang memang sering lupa proses. Maklum, akibat jarang mengasah otak, hehe. Pekerjaan saya di kantor awalnya adalah menginput data keluar-masuk produk yang kami jual. Tidak begitu sulit kan? Jadi saya hanya duduk di kursi dan memainkan jari di keyboard laptop, sambil online dan belajar menulis cerita di blog. Hehe.
Mungkin terlihat begitu konyol tulisan saya ini, tapi itulah faktanya bahwa kekonyolan dapat membuat kita lupa untuk mempublikasikannya melalui sebuah tulisan. Terkadang hanya bisa diungkapkan melalui lisan saja. Tulisan ini hanya bentuk pembelajaran bagi saya untuk lebih baik lagi dalam menulis. Demikianlah untuk kalian para konyolers yang sudah membaca, terima kasih. Salam Konyol Damai (SKD).
Selanjutnya, yang ketiga adalah ujian akhir semester. Ada satu mata kuliah yang membuat saya menekuninya, yaitu Dramaturgi. Entah apa yang membuat saya begitu tertarik untuk menekuninya. Mungkin karena saya sangat menyukai bermain peran layaknya politisi yang banyak macam mukanya, hehe. Saat mata kuliah ini, saya beserta teman sekelas diberi peran untuk bermain dan itu dipentaskan untuk umum. Sungguh membuat saya ingin mengulanginya, tapi bukan dengan cara mendapat nilai akhir D ataupun E. Karena saya sangat menyukai karya orang dibandingkan karya saya, jadi saya banyak menyukai mata kuliah yang mendalami sastra, walaupun ada mata kuliah pendalaman sastra yang nilainya E, hehe (saya tak akan menceritakan kenapa bisa seperti itu :p).
Yang terakhir (mungkin), awal saya bekerja di semester baru (cieee yang kerja). Ya, saya ditawari oleh sepupu saya untuk membantu pekerjaan dia, karena itu keinginan saya sejak pertama kuliah, tak mungkin saya menolak. Selain mencari pengalaman kerja sebelum memasuki pekerjaan dan tantangan hidup yang sesungguhnya, jadi saya belajar dulu di perusahaan paman-adik ibu saya-yang kebetulan juga saya menumpang tinggal di rumah beliau. Awal masuk kerja tidaklah begitu sulit, namun cukup membingungkan bagi saya yang memang sering lupa proses. Maklum, akibat jarang mengasah otak, hehe. Pekerjaan saya di kantor awalnya adalah menginput data keluar-masuk produk yang kami jual. Tidak begitu sulit kan? Jadi saya hanya duduk di kursi dan memainkan jari di keyboard laptop, sambil online dan belajar menulis cerita di blog. Hehe.
Mungkin terlihat begitu konyol tulisan saya ini, tapi itulah faktanya bahwa kekonyolan dapat membuat kita lupa untuk mempublikasikannya melalui sebuah tulisan. Terkadang hanya bisa diungkapkan melalui lisan saja. Tulisan ini hanya bentuk pembelajaran bagi saya untuk lebih baik lagi dalam menulis. Demikianlah untuk kalian para konyolers yang sudah membaca, terima kasih. Salam Konyol Damai (SKD).
Senin, 30 Desember 2013
Presidensial, Bukan Presiden Sial dan Bukan Penjilat Ludah!
Pada awal tahun 2014, sistem Jaminan Kesehatan Nasional akan dilaksanakan di Negeri ini. Melihat sistem dan proses kesehatan yang ada, mungkin sekitar 7-10% saja puskesmas yang memiliki dokter. Mungkin saja kendalanya adalah daerah yg sulit di jangkau. Tapi menurut saya tidak menutup kemungkinan para dokter harus bertugas disana karena mereka adalah pahlawan nyawa berjubah putih.
Sistem Jaminan Kesehatan Nasional ini sudah diumumkan oleh presiden terhormat Susilo Bambang Yudhoyono pada bulan Agustus lalu. Beliau mengatakan kalau orang kaya atau orang mampu jangan sedikit-sedikit sakit berobat ke luar negeri. Dan saya sangat mengapresiasi perkataan beliau saat itu. Tetapi berubah pandangan saya terhadap beliau yang kelihatan tidak konsisten, penjilat ludah. Kenapa? Karena beberapa waktu lalu beliau mengisyaratkan bahwa para menteri/pejabat negara/pejabat tinggi jika sakit berobat ke luar negeri dg gratis. Anggarannya tidak sedikit bung. Bayangkan jika satu menteri beserta satu istri dan dua anak dikalikan beberapa menteri yang menjabat. Bisa jadi mencapai 1 Trilyun. Bisa untuk anggaran logistik, pendidikan atau lainnya.
Alangkah baiknya jika Pak Presiden yang terhormat itu memberikan pengobatan gratis kepada orang kurang mampu dan para pejabat yang sakit mencoba untuk berobat di puskesmas yang tidak ada dokternya. Agar bisa merasakjgaan juga kebersamaan insani di negeri yang katanya sudah berkembang ini.
Semoga Pak Presiden yang terhormat sempat membuka blog saya ini. Membuka unek-unek saya dan memerintahkan saya mengganti menteri yang masuk daftar berobat gratis. Semoga saja :)
Sistem Jaminan Kesehatan Nasional ini sudah diumumkan oleh presiden terhormat Susilo Bambang Yudhoyono pada bulan Agustus lalu. Beliau mengatakan kalau orang kaya atau orang mampu jangan sedikit-sedikit sakit berobat ke luar negeri. Dan saya sangat mengapresiasi perkataan beliau saat itu. Tetapi berubah pandangan saya terhadap beliau yang kelihatan tidak konsisten, penjilat ludah. Kenapa? Karena beberapa waktu lalu beliau mengisyaratkan bahwa para menteri/pejabat negara/pejabat tinggi jika sakit berobat ke luar negeri dg gratis. Anggarannya tidak sedikit bung. Bayangkan jika satu menteri beserta satu istri dan dua anak dikalikan beberapa menteri yang menjabat. Bisa jadi mencapai 1 Trilyun. Bisa untuk anggaran logistik, pendidikan atau lainnya.
Alangkah baiknya jika Pak Presiden yang terhormat itu memberikan pengobatan gratis kepada orang kurang mampu dan para pejabat yang sakit mencoba untuk berobat di puskesmas yang tidak ada dokternya. Agar bisa merasakjgaan juga kebersamaan insani di negeri yang katanya sudah berkembang ini.
Semoga Pak Presiden yang terhormat sempat membuka blog saya ini. Membuka unek-unek saya dan memerintahkan saya mengganti menteri yang masuk daftar berobat gratis. Semoga saja :)
Jumat, 13 Desember 2013
Hei Kawan, Apa Kabarmu Di Sana?
Ketika kau tak lagi bersama kami, ketika kau mendahului kami kembali ke sang Pencipta, kami sangat kehilangan dan sedih, terkadang juga bangga. Ya, bangga karena kau mampu melawan sakit yang kau derita itu. Selama bertahun-tahun kita bersama, bersenda gurau, berkreasi, kau tidak pernah mengeluh akan sakit yang kau derita. Kami sedih karena harus kehilangan dirimu yang sangat bermakna diantara kami. Kami kehilangan sosok yang kami hormati. Bertahan dalam waktu sekitar 2 tahun, berjuang sendiri untuk sakit yang kau derita tanpa kami ketahui. Itu sungguh tindakan konyol darimu, tapi kami salut kau bisa seperti itu. Kami salut karena kami mungkin tidak bisa sepertimu, yang mencoba terlihat sehat walau sebenarnya kau sakit. Masih terngiang dalam ingatanku saat kau bercanda, tertawa, serius, dan saat-saat bersama kami. Kau juga lah mentorku, mentor kami, sahabatku, sahabat kami, keluargaku dan keluarga kami.
Kini, kau telah berada di alam lain, bersama para malaikat dan mungkin juga bersama orang yang aku kenal yang telah mendahului kami. Selamat istirahat di alam sana kawan kami, Edward, selalu kami kenang saat-saat bersamamu :)
Kini, kau telah berada di alam lain, bersama para malaikat dan mungkin juga bersama orang yang aku kenal yang telah mendahului kami. Selamat istirahat di alam sana kawan kami, Edward, selalu kami kenang saat-saat bersamamu :)
Senin, 09 Desember 2013
9-10, Beda Tipis Lah.
Korupsi?
Koruptor? Ah, korupsi itu merupakan hak setiap manusia, karena berdampingan.
Alasannya peringatan Hari Korupsi dan Hak Asasi Manusia hanya selisih 24 jam.
Korupsi merupakan hak karena ya itu, hak. Contohnya saya yang telat ngampus,
itu hak saya mau telat atau cepat, tapi sudah termasuk korupsi. Korupsi waktu.
Kemudian jika koruptor di hukum mati, kan ada Hak Asasi Manusia, manusia berhak
untuk hidup. Saya semakin bingung jika keduanya dikaitkan. Satu sisi, kosupsi
salah, sisi lainnya hukuman mati menyalahi hak manusia untuk hidup. Seperti
yang kita ketahui, tanggal 9 Desember adalah peringatan Hari Korupsi Sedunia
dan 10 Desember merupakan Hari Hak Asasi Manusia. Sungguh berdekatan bukan?
Selanjutnya bagaimana Hak Asasi Manusia di Indonesia, apakah sudah memiliki hak
sepenuhnya? Saya rasa tidak. Banyak persoalan di negri ini yang sangat
bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Manusia berhak untuk hidup, mengelola
sumber daya alam dan isinya, berhak untuk mengeluarkan pendapat, berhak memilih
keyakinan dan masih banyak lagi hak-hak manusia lainnya. Tetapi di Indonesia,
hak manusia banyak dirampas oleh orang tak mengenal dosa. Hak untuk mengelola
Sumber Daya Alam beserta isinya misalnya, sudah hilang haknya kan?Semua orang
di dunia tahu bahwa hutan kita adalah paru-paru dunia, tetapi kini mungkin
sudah sedikit dan tidak tertutup kemungkinan akan hilang julukan tersebut. Ini
karena orang tak bertanggung jawab sudah merampas hak masyarakat lokal untuk
mengelola hutan tersebut. Kini masyarakat lokal akan tersisih karena akan
banyaknya gedung-gedung tinggi, mal-mal bertaburan, perkantoran, bahkan
perkebunan monokultur merupakan penyebab utamanya. Masyarakat lokal tidak
mempunyai hak lagi untuk mengelola hutan mereka, hak mereka sudah diambil alih
oleh bajingan asing, pejabat negara, pejabat daerah setempat, dan oknum yang
tak bertanggung jawab. Hebatnya lagi, walau mereka sudah berusaha untuk
mengembalikan hak mereka untuk mengelola, tetap saja keadilan di negri ini
masih memihak yang berkantong tebal. Kemudian hak untuk hidup, aktivis HAM
bagaimana? Dia berjuang untuk menegakkan HAM di negri ini malah di bunuh.
Sungguh ironi yang benar-benar membuat hati ini teriris. Semoga Korupsi dan Hak
Asasi Manusia di negri ini bisa di tegakkan, maksudnya korupsi bisa di berantas
dan Hak Asasi Manusia tetap berdiri tegak. Selamat jalan Munir dan matilah kau
KORUPTOR!
Langganan:
Postingan (Atom)