Baru
saja aku menapaki hidup ke 8.401 kemarin. Baru memasuki babak baru dalam usia
yang sudah uzur. Ah, kisah hidupmu tak semulus kisah hidupku yang seperti
jalanan menuju kampung halamanku nun jauh di hulu sebuah provinsi di
Kalimantan.
Ingin ku
ceritakan kisahku semalam, lagi-lagi dalam keadaan konyol. Entahlah, ini bukan
efek ganja yang aku hisap untuk rekreasi dulu. Tetapi memang konyol hingga aku
lupa apa yang ingin aku kisahkan. Juga bukan niatku untuk memenuhkan postingan
di blog agar kelihatan keren. Sudahlah jika kalian memaksaku untuk menceritakan
kejadian semalam.
Ceritanya
begini. Semalam, hujan turun dengan derasnya di kota perantauan, sangat deras. Kalau
pemuda galau, keadaan semalam sangat cocok untuk duduk di pojokan kamar sambil
memandang keluar melalui ventilasi karena jendelanya tak ada, ditemani alunan
musik kampret nan galau yang kalau buat main judi remi jelas bikin yang dengar
jadi nangis meskipun menang judi. Cocok! Sangat cocok!
Jadi,
semalam itu hujan deras, tapi bukan karena hujan yang ingin aku ceritakan. Masalahnya
pas hujan, aku sedang santai di warkop pinggir jalan di kawasan pertokoan
warkop, pokoknya banyak warkop di daerah situ. Yang jelas warkop yang aku
tumpangi untuk bersantai tak terkena hujan, kan ada atapnya men. Saat santai,
ada pemuda datang sendirian, duduk di meja sebelahku. Ganteng, kalau ada si
Jono, mungkin Jono naksir sama si pemuda itu. Waaah, dalam pikirku, dia
sendirian pasti lagi nunggu teman perempuannya, kesempatan bagiku untuk dapat
kenalan perempuan, kalau bisa aku ajak sekamar, eh sehobi maksudnya. Tanpa rasa
canggung, aku ajak kenalan dan benar ternyata dia menunggu teman perempuannya. Wah,
pikiranku benar, yeah jackpot! Sambil nunggu hujan, sruput kopi sambil hisap
ganja, eh rokok maksudnya, dan ngobrol sama si pemuda, ternyata dia adalah
seorang pengusaha muda, modalnya memang dari bapaknya tapi bisa dikembangkan
menjadi besar besar dan besar.
Dari obrolan
panjang kami hingga 2 jam menunggu teman perempuannya yang tak kunjung datang
karena hujan deras, aku mendapatkan ilmu dari dia. Ilmu wirausaha, yeah. Tak perlu
beli buku wirausaha lagi kan udah dapat ilmunya dari dia pikirku. Katanya,
sekarang pemuda takut akan berwirausaha, alasannya takut rugi. Masalah rugi
untung, itu kita yang atur. Kalau mau rugi, ya bermalas-malas dan perbanyak
pengeluaranlah kita. Kalau mau untung, rajin-rajinlah dan manajemenkan
penghasilan sebijak mungkin, bukan karena pelit. Dia juga mencontohkan dengan
pertokoan sepanjang jalanan yang terkenal karena banyaknya warkop tersebut. “Lihatlah,
apakah ada wajah pribumi yang memiliki ruko disini?”katanya. Memang tak ada
selama kulihat. Hanya wajah oriental yang ada. Itu karena rajinnya dan
pandainya mereka mencari peluang untuk berwirausaha katanya. Kalau dicermati,
kemanakah orang pribumi? Ternyata orang pribumi lebih memilih bersaing, entah
sehat atau tidak, dalam perebutan kursi pegawai negeri. Oh betapa konyolnya
negeri ini menurutnya. Waaaah, ternyata dia juga konyol karena bisa berpikiran
konyol. Sampai larut malam kami berbincang saling berbagi ilmu, walau lebih
banyak ilmu yang masuk ke aku karena dia lebih berpengalaman. Sungguh konyol
semalam, hanya karena hujan dan santai di warkop, aku bisa dapat ilmu. Sudahlah,
aku ingin ke masjid untuk membacakan khotbah. Yeah! Salam Konyol Damai (SKD)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar