Berusaha peduli walaupun kelihatan tak peduli, mari berpetualang, hidup mandiri dan menikmati hidup dengan musik metal dan alam yang telah diberikan Tuhan. Berusaha menjaga alam dan isi untuk masa depan kehidupan.
Jumat, 14 November 2014
Mereka Lebih Konyol Dari Aku
Baru saja aku menapaki hidup ke 8.401 kemarin. Baru memasuki babak baru dalam usia yang sudah uzur. Ah, kisah hidupmu tak semulus kisah hidupku yang seperti jalanan menuju kampung halamanku nun jauh di hulu sebuah provinsi di Kalimantan.
Kamis, 13 November 2014
MENULIS SUATU KEKONYOLAN
Tak terasa, kini aku hidup sudah lebih dari delapan ribu hari,
tepatnya 8.401 hari. Artinya sudah memasuki tahun kedua puluh tiga. Lumayan tua
dan lama juga hidup di dunia yang fana menurut manusia yang kurang mengerti
esensi kehidupan. Kehidupan yang ku jalani selama ini belumlah bisa dikatakan
cukup baik untuk seorang agamis dan nasionalis. Aku masih berlumur dosa jika memakai
kata yang berlebihan untuk sifat religius, aku juga masih banyak melanggar
aturan untuk nasionalis diri.
Kini, aku sudah tak muda lagi walau belum dikatakan tua seperti
bapak. Tetapi semangatku untuk lebih maju dari mereka masih berkobar, semangat
untuk menuju kesuksesan dunia, belum pada akhirat. Meskipun kesuksesan untuk
akhirat masih tersimpan dalam niat.
Hari-hariku dulu memang tak mulus, memang banyak dosa yang aku
buat. Tetapi ingatlah, jika aku tak mau hidup dalam lingkaran masa lalu. Biarlah
kelam itu sebagai pelajaran bagiku, tidak untuk jalanku yang menuju sukses.
Ibuku, telah melahirkanku dan merawatku hingga usiaku menginjak
usia 20 tahun. Saat itu Tuhan memang ingin bertemu dengannya, ingin melihat
seorang ibu yang penuh kasih dan sayang, penuh cinta pada anaknya, tetapi tidak
melebihi Ar-Rahman dan Ar- Rahim dari sang pencipta. Ibu masih ada dalam
hatiku, karena memang belum ada perempuan sebaya atau setengah baya yang
mengisi kosongnya hatiku. Mungkin kalimat tadi hanya candaan, biar yang membaca
tidak menangis, aku buatkan sedikit guyonan. Tak ada kata yang buruk mengenai
ibu, karena dia Ibuku, bukan Ibumu. Terimakasih ibu.
Bapak, sama dengan ibu, tak ada kata yang buruk untuknya. Bapak
yang masih bisa menemaniku di hari tuanya, masih bekerja untuk menyekolahkan
aku. Masih selalu ku dengar nasihat beliau saat aku berada di rumah. Maafkan anakmu
ini, yang masih suka melanggar nasihatmu, masih suka membohongimu. Pasti aku
menyesal tak mengindahkan nasihat-nasihatmu. Tetaplah kuat, tetaplah semangat,
tetaplah mengirim uang untuk anakmu di perantauan pak. Karena bapakku pasti
ingin melihatku memakai jas, toga, dan sebuah plakat yang diberikan oleh
kampus, berfoto bersama beliau, dan dipajang di dinding ruang tamu. Pastinya beliau
ingin menunjukkan pada teman-temannya, bahwa dia telah sukses mendidik
anak-anaknya, sukses menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Bukan
untuk pamer, tetapi untuk sebuah kebanggaan yang tak ternilai untuknya. You are
my superhero, karena superman superhero idolaku, hanya fiksi, sedangkan engkau,
adalah nyata bagiku. Jangan berhenti membimbingku, teruslah berikan nasihat
untuk kehidupanku yang baik.
Abangku, kau telah memberikan contoh yang baik kepadaku sebagai
panutan dalam satu hubungan darah. Kau juga seperti bapak, memberikan nasihat
saat aku berbuat salah. Selalu memberikan uang jajan jika menjengukku di
perantauan walau tidak banyak. Dan kini, kau telah sukses menjadi seorang imam
untuk keluargamu.
Kakak, kasih sayangmu seperti ibu, selalu memerhatikan aku,
tingkah laku ku, agar aku tak terjerumus ke masa kelam. Teruslah seperti itu. Karena
kau kini sudah berkeluarga, aku takut tak ada lagi kasih sayang kau berikan
untuk adikmu. Jadilah ibu yang baik, seperti ibu kita.
Kawan-kawan, kalian penghiburku disaat aku merasa gundah. Tak hanya
keluarga, kalian juga berkontribusi dalam kehidupanku. Berkontribusi dalam hal
baik dan buruk, karena baik buruk tak bisa diukur. Terimakasih atas dukungan
kalian untuk memotivasiku menuju kesuksesan.
Sahabatku. Ah, ini terlalu formal seperti perempuan saja. Lebih baik
aku memanggil kalian kampretku. Kalian para kampret, tak pernah jauh dariku,
kalian penghiburku saat aku susah, kalian tetap berbagi denganku. Walau paragraf
memuji ini hanya hiburan buat kalian saja, tetapi kalian memang kampretku yang
aku senangi. Sukses untuk kita.
Terimakasih untuk orang-orang di sekitarku, yang sempat menemani
hari-hariku hingga aku bisa merasakan hari kedelapan ribu empat ratus satu ini.
Memang tak ada perubahan istimewa hari ini, tetap saja hari Kamis. Mungkin saja
tepat pada Kamisan dan malam Jumat pada malamnya.
Indonesia, terimakasih sudah memberikan tanah, air, udara, dan
api, walau bukan Avatar The Legend Of Aang yang kau berikan. Aku sangat
mencintai negeri ini, walau sistem dalam negeri ini masih kacau. Jangan usir
aku dari negeri ini, beri aku ruang untuk hidup. Aku takut jika aku menulis
ini, aku dideportasi ke negara antah berantah, beruntung jika ke negeri
kahyangan Ramayana.
Tuhan, kenapa aku letakkan Kau di paragraf sesudah para manusia? Karena
aku pasti mati, dan aku ingin mengucapkan nama-Mu di akhir nafasku. Biarlah
Pancasila meletakkan nama-Mu di awal, karena itu ideologi. Tidak denganku yang
diakhir, karena aku sangat ingin mati dalam keadaan menyebut nama-Mu, menyebut
nama-nama indah-Mu yang sembilan puluh sembilan itu. Tak ada penolong memang
jika aku tak melakukan kebaikan dan menjalankan perintahmu dan menjauhi
laranganmu, tetapi setidaknya ada kompensasi untukku saat aku menyebut nama-Mu
diakhir hayatku. Tuhan, Kau memang tak berwujud, dosa jika aku mengandaikan
rupa-Mu, tapi sungguh, aku masih ingin hidup lebih lama lagi. Walau sudah hari
kedelapan ribu empat ratus satu, kau memberikan jatah nafasku. Izinkan aku
untuk menikmati hari-hariku, kalau bisa tambahkan 20.000 hari lagi, agar aku
memiliki kesempatan untuk lebih banyak bertaubat. Tuhan, tetap ada nama-Mu di
hati kosongku ini, karena aku sisihkan nama-nama setelah keluargaku di samping
nama-Mu. Aku tetap percaya, tak ada Tuhan selain Allah. Aku pun masih percaya
bahwa Muhammad adalah utusan terakhir-Mu. Engkaulah pemberi nafasku, pemberi
kehidupan, pencipta alam semesta. Merugi jika aku tak memuji-muji-Mu walau Kau
tak meminta pujian.
Oh iya, bagi yang ingin memberikan kado, aku takkan bisa menolak. Karena aku tau susahnya kalian memberikan kado itu. Jika tak ada yang memberikan kado, ya sudah. maklumkan saja karena sudah tua. Mungkin itu alasannya.
Terimakasih untuk kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca
bacaan konyol ini. Tetapi tidak semuanya konyol, mungkin hanya aku saja yang
konyol membuat kata-kata yang konyol. Itulah aku, hidup dalam kekonyolan
lingkungan. Semoga aku masih bisa diberikan kesempatan yang lama untuk membuat
tulisan yang tidak konyol lagi. Salam Konyol Damai (SKD)
Langganan:
Postingan (Atom)