Sedikit Umpatan Dari Saya

Jumat, 14 November 2014

Mereka Lebih Konyol Dari Aku

Baru saja aku menapaki hidup ke 8.401 kemarin. Baru memasuki babak baru dalam usia yang sudah uzur. Ah, kisah hidupmu tak semulus kisah hidupku yang seperti jalanan menuju kampung halamanku nun jauh di hulu sebuah provinsi di Kalimantan.
Ingin ku ceritakan kisahku semalam, lagi-lagi dalam keadaan konyol. Entahlah, ini bukan efek ganja yang aku hisap untuk rekreasi dulu. Tetapi memang konyol hingga aku lupa apa yang ingin aku kisahkan. Juga bukan niatku untuk memenuhkan postingan di blog agar kelihatan keren. Sudahlah jika kalian memaksaku untuk menceritakan kejadian semalam.
Ceritanya begini. Semalam, hujan turun dengan derasnya di kota perantauan, sangat deras. Kalau pemuda galau, keadaan semalam sangat cocok untuk duduk di pojokan kamar sambil memandang keluar melalui ventilasi karena jendelanya tak ada, ditemani alunan musik kampret nan galau yang kalau buat main judi remi jelas bikin yang dengar jadi nangis meskipun menang judi. Cocok! Sangat cocok!
Jadi, semalam itu hujan deras, tapi bukan karena hujan yang ingin aku ceritakan. Masalahnya pas hujan, aku sedang santai di warkop pinggir jalan di kawasan pertokoan warkop, pokoknya banyak warkop di daerah situ. Yang jelas warkop yang aku tumpangi untuk bersantai tak terkena hujan, kan ada atapnya men. Saat santai, ada pemuda datang sendirian, duduk di meja sebelahku. Ganteng, kalau ada si Jono, mungkin Jono naksir sama si pemuda itu. Waaah, dalam pikirku, dia sendirian pasti lagi nunggu teman perempuannya, kesempatan bagiku untuk dapat kenalan perempuan, kalau bisa aku ajak sekamar, eh sehobi maksudnya. Tanpa rasa canggung, aku ajak kenalan dan benar ternyata dia menunggu teman perempuannya. Wah, pikiranku benar, yeah jackpot! Sambil nunggu hujan, sruput kopi sambil hisap ganja, eh rokok maksudnya, dan ngobrol sama si pemuda, ternyata dia adalah seorang pengusaha muda, modalnya memang dari bapaknya tapi bisa dikembangkan menjadi besar besar dan besar.
Dari obrolan panjang kami hingga 2 jam menunggu teman perempuannya yang tak kunjung datang karena hujan deras, aku mendapatkan ilmu dari dia. Ilmu wirausaha, yeah. Tak perlu beli buku wirausaha lagi kan udah dapat ilmunya dari dia pikirku. Katanya, sekarang pemuda takut akan berwirausaha, alasannya takut rugi. Masalah rugi untung, itu kita yang atur. Kalau mau rugi, ya bermalas-malas dan perbanyak pengeluaranlah kita. Kalau mau untung, rajin-rajinlah dan manajemenkan penghasilan sebijak mungkin, bukan karena pelit. Dia juga mencontohkan dengan pertokoan sepanjang jalanan yang terkenal karena banyaknya warkop tersebut. “Lihatlah, apakah ada wajah pribumi yang memiliki ruko disini?”katanya. Memang tak ada selama kulihat. Hanya wajah oriental yang ada. Itu karena rajinnya dan pandainya mereka mencari peluang untuk berwirausaha katanya. Kalau dicermati, kemanakah orang pribumi? Ternyata orang pribumi lebih memilih bersaing, entah sehat atau tidak, dalam perebutan kursi pegawai negeri. Oh betapa konyolnya negeri ini menurutnya. Waaaah, ternyata dia juga konyol karena bisa berpikiran konyol. Sampai larut malam kami berbincang saling berbagi ilmu, walau lebih banyak ilmu yang masuk ke aku karena dia lebih berpengalaman. Sungguh konyol semalam, hanya karena hujan dan santai di warkop, aku bisa dapat ilmu. Sudahlah, aku ingin ke masjid untuk membacakan khotbah. Yeah! Salam Konyol Damai (SKD)

Kamis, 13 November 2014

MENULIS SUATU KEKONYOLAN

Tak terasa, kini aku hidup sudah lebih dari delapan ribu hari, tepatnya 8.401 hari. Artinya sudah memasuki tahun kedua puluh tiga. Lumayan tua dan lama juga hidup di dunia yang fana menurut manusia yang kurang mengerti esensi kehidupan. Kehidupan yang ku jalani selama ini belumlah bisa dikatakan cukup baik untuk seorang agamis dan nasionalis. Aku masih berlumur dosa jika memakai kata yang berlebihan untuk sifat religius, aku juga masih banyak melanggar aturan untuk nasionalis diri.

Kini, aku sudah tak muda lagi walau belum dikatakan tua seperti bapak. Tetapi semangatku untuk lebih maju dari mereka masih berkobar, semangat untuk menuju kesuksesan dunia, belum pada akhirat. Meskipun kesuksesan untuk akhirat masih tersimpan dalam niat.
Hari-hariku dulu memang tak mulus, memang banyak dosa yang aku buat. Tetapi ingatlah, jika aku tak mau hidup dalam lingkaran masa lalu. Biarlah kelam itu sebagai pelajaran bagiku, tidak untuk jalanku yang menuju sukses.

Ibuku, telah melahirkanku dan merawatku hingga usiaku menginjak usia 20 tahun. Saat itu Tuhan memang ingin bertemu dengannya, ingin melihat seorang ibu yang penuh kasih dan sayang, penuh cinta pada anaknya, tetapi tidak melebihi Ar-Rahman dan Ar- Rahim dari sang pencipta. Ibu masih ada dalam hatiku, karena memang belum ada perempuan sebaya atau setengah baya yang mengisi kosongnya hatiku. Mungkin kalimat tadi hanya candaan, biar yang membaca tidak menangis, aku buatkan sedikit guyonan. Tak ada kata yang buruk mengenai ibu, karena dia Ibuku, bukan Ibumu. Terimakasih ibu.

Bapak, sama dengan ibu, tak ada kata yang buruk untuknya. Bapak yang masih bisa menemaniku di hari tuanya, masih bekerja untuk menyekolahkan aku. Masih selalu ku dengar nasihat beliau saat aku berada di rumah. Maafkan anakmu ini, yang masih suka melanggar nasihatmu, masih suka membohongimu. Pasti aku menyesal tak mengindahkan nasihat-nasihatmu. Tetaplah kuat, tetaplah semangat, tetaplah mengirim uang untuk anakmu di perantauan pak. Karena bapakku pasti ingin melihatku memakai jas, toga, dan sebuah plakat yang diberikan oleh kampus, berfoto bersama beliau, dan dipajang di dinding ruang tamu. Pastinya beliau ingin menunjukkan pada teman-temannya, bahwa dia telah sukses mendidik anak-anaknya, sukses menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Bukan untuk pamer, tetapi untuk sebuah kebanggaan yang tak ternilai untuknya. You are my superhero, karena superman superhero idolaku, hanya fiksi, sedangkan engkau, adalah nyata bagiku. Jangan berhenti membimbingku, teruslah berikan nasihat untuk kehidupanku yang baik.

Abangku, kau telah memberikan contoh yang baik kepadaku sebagai panutan dalam satu hubungan darah. Kau juga seperti bapak, memberikan nasihat saat aku berbuat salah. Selalu memberikan uang jajan jika menjengukku di perantauan walau tidak banyak. Dan kini, kau telah sukses menjadi seorang imam untuk keluargamu.

Kakak, kasih sayangmu seperti ibu, selalu memerhatikan aku, tingkah laku ku, agar aku tak terjerumus ke masa kelam. Teruslah seperti itu. Karena kau kini sudah berkeluarga, aku takut tak ada lagi kasih sayang kau berikan untuk adikmu. Jadilah ibu yang baik, seperti ibu kita.

Kawan-kawan, kalian penghiburku disaat aku merasa gundah. Tak hanya keluarga, kalian juga berkontribusi dalam kehidupanku. Berkontribusi dalam hal baik dan buruk, karena baik buruk tak bisa diukur. Terimakasih atas dukungan kalian untuk memotivasiku menuju kesuksesan.

Sahabatku. Ah, ini terlalu formal seperti perempuan saja. Lebih baik aku memanggil kalian kampretku. Kalian para kampret, tak pernah jauh dariku, kalian penghiburku saat aku susah, kalian tetap berbagi denganku. Walau paragraf memuji ini hanya hiburan buat kalian saja, tetapi kalian memang kampretku yang aku senangi. Sukses untuk kita.

Terimakasih untuk orang-orang di sekitarku, yang sempat menemani hari-hariku hingga aku bisa merasakan hari kedelapan ribu empat ratus satu ini. Memang tak ada perubahan istimewa hari ini, tetap saja hari Kamis. Mungkin saja tepat pada Kamisan dan malam Jumat pada malamnya.

Indonesia, terimakasih sudah memberikan tanah, air, udara, dan api, walau bukan Avatar The Legend Of Aang yang kau berikan. Aku sangat mencintai negeri ini, walau sistem dalam negeri ini masih kacau. Jangan usir aku dari negeri ini, beri aku ruang untuk hidup. Aku takut jika aku menulis ini, aku dideportasi ke negara antah berantah, beruntung jika ke negeri kahyangan Ramayana.

Tuhan, kenapa aku letakkan Kau di paragraf sesudah para manusia? Karena aku pasti mati, dan aku ingin mengucapkan nama-Mu di akhir nafasku. Biarlah Pancasila meletakkan nama-Mu di awal, karena itu ideologi. Tidak denganku yang diakhir, karena aku sangat ingin mati dalam keadaan menyebut nama-Mu, menyebut nama-nama indah-Mu yang sembilan puluh sembilan itu. Tak ada penolong memang jika aku tak melakukan kebaikan dan menjalankan perintahmu dan menjauhi laranganmu, tetapi setidaknya ada kompensasi untukku saat aku menyebut nama-Mu diakhir hayatku. Tuhan, Kau memang tak berwujud, dosa jika aku mengandaikan rupa-Mu, tapi sungguh, aku masih ingin hidup lebih lama lagi. Walau sudah hari kedelapan ribu empat ratus satu, kau memberikan jatah nafasku. Izinkan aku untuk menikmati hari-hariku, kalau bisa tambahkan 20.000 hari lagi, agar aku memiliki kesempatan untuk lebih banyak bertaubat. Tuhan, tetap ada nama-Mu di hati kosongku ini, karena aku sisihkan nama-nama setelah keluargaku di samping nama-Mu. Aku tetap percaya, tak ada Tuhan selain Allah. Aku pun masih percaya bahwa Muhammad adalah utusan terakhir-Mu. Engkaulah pemberi nafasku, pemberi kehidupan, pencipta alam semesta. Merugi jika aku tak memuji-muji-Mu walau Kau tak meminta pujian.

Oh iya, bagi yang ingin memberikan kado, aku takkan bisa menolak. Karena aku tau susahnya kalian memberikan kado itu. Jika tak ada yang memberikan kado, ya sudah. maklumkan saja karena sudah tua. Mungkin itu alasannya.

Terimakasih untuk kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca bacaan konyol ini. Tetapi tidak semuanya konyol, mungkin hanya aku saja yang konyol membuat kata-kata yang konyol. Itulah aku, hidup dalam kekonyolan lingkungan. Semoga aku masih bisa diberikan kesempatan yang lama untuk membuat tulisan yang tidak konyol lagi. Salam Konyol Damai (SKD)