Halo selamat membaca kembali konyolers. Lumayan
lama juga saya tidak menulis di lembaran elektronik ini. Maklum, sibuk dengan
pekerjaan dan tugas kuliah yang membuat mumet otak. Walaupun begitu, tapi saya
tetap aktif kok menulis. Ya, menulis status di BBM atau Facebook. Hehe.
Kebetulan momen yang ingin saya tulis ini
merupakan mindset kebanyakan teman saya, mungkin juga anda. Bisa jadi ini
pengaruh dari keluarga anda atau tuntutan keluarga, bisa juga karena niat anda
sendiri karena melihat enaknya. Saya ingin menuliskan beberapa keluh kesah
teman BBM dan Facebook saya tentang kebijakan Moratorium PNS selama 5 tahun
oleh pemerintahan Jokowi. Mungkin karena PNS itu menjanjikan di hari tuanya
atau juga karena kerjanya yang kita lihat santai tapi tiap bulannya bergaji
kali ya? Hehe. Tapi apakah kalian tidak pernah berpikir untuk menjadi pedagang,
penulis, ataupun kolektor? Mungkin pernah, tapi sebagian saja. Coba bayangkan
kalau kita yang melimpah ini, berkarya, menciptakan usaha sendiri walau
kecil-kecilan, bisa juga menciptakan lagu walau orang lain tidak tahu judul
lagu dan lirik yang kita buat. Hehe. Ah sudahlah, lupakan masalah itu.
Kembali ke masalah yang ingin saya sampaikan. Cekidot!
Begini. Menurut saya, menjadi PNS bukanlah sebuah pekerjaan yang mustahil. Tidak
salah jika seseorang ingin menjadi PNS. Lebih bagus lagi jika dia seorang PNS
yang benar-benar mengabdi pada negara dan lebih luar biasa lagi jika ditambah
dengan penciptaan lapangan kerja bagi lingkungan sekitarnya. Ya sedikit sih
yang kayak gitu, hehe. Sedikit itu mungkin karena kebanyakan orang ataupun yang
sudah menjadi calon PNS kurang mengerti esensi pekerjaan sebagai PNS. PNS itu
kan tugasnya mengabdi pada negara, tapi kenapa banyak yang kita lihat PNS
malas-malasan? Ya karena tak mengerti esensi pekerjaan makanya seperti itu. Akhirnya
banyak pemuda—anak SMA dan mahasiswa khususnya teman saya—yang menduga betapa enaknya
menjadi PNS. Asal kita mau berusaha
dan belajar, tak ada yang perlu ditakuti untuk pekerjaan kita kelak entah
sebagai PNS atau swasta. Yang perlu kita kedepankan adalah cara kita untuk
membangun bangsa ini, mengabdi pada bangsa.
Kita ambil contoh, seorang guru (yang PNS bukan
yang swasta) yang mengajar di sebuah sekolah misalnya saja SD. Pendidikan dasar
ini merupakan pendidikan utama di Indonesia, karena itu guru harus giat dan
sepenuh hati untuk mengajar murid-muridnya. Bukan begitu Bung Toel? Hehe. Pengalaman
saya saat SD, guru bisa saja masuk untuk mengajar seenaknya. Maksudnya guru
bisa mengajar atau tidak tergantung moodnya
guru. Kalau sedang malas, guru tidak mengajar. Kalau lagi rajin, guru akan
mengajar. Terus, dampaknya pada murid. Murid akan beranggapan betapa enaknya
menjadi guru. Tidak mengajar tapi gaji jalan terus. Berbeda dengan guru swasta
atau honorer, jika tidak mengajar, gajinya dipotong oleh yayasan. Kemudian saat
murid di rumah. Kebetulan orangtuanya adalah PNS. Saat di rumah (kalo SD
pulangnya jam 10-12), si anak (menggantikan posisi murid hehe) melihat
orangtuanya tidak ke kantor padahal bukan hari libur atau jam istirahat. Padahal
di rumah orangtua yang memberikan pendidikan secara nyata. Masa’ orangtua
memberikan contoh yang malas. Akhirnya si anak akan beranggapan kalau menjadi
PNS bisa santai di rumah, cuma isi absen terus pulang dan santai. Inilah yang
menjadi motivasi anak-anak untuk menjadi PNS.
Mungkin sama halnya dengan yang dirasakan oleh
teman-teman saya yang kecewa karena moratorium itu. Tapi alangkah indahnya jika
kita menyikapi kebijakan itu dengan berusaha berkarya. Menjadi pedagang,
penulis, kolektor, dan lain sebagainya juga berkarya dalam bidangnya, PNS juga.
Tidak mati kok kalau kita tidak menjadi PNS. Apalagi
kebanyakan teman saya sedang menempuh strata satu di perguruan tinggi. Pastinya
sudah dibekali pendidikan di bidangnya masing-masing. Selain pendidikan,
pengalaman juga sudah mumpuni saat berorganisasi—walaupun masih banyak juga teman saya yang tidak pernah memasuki
ruang lingkup organisasi secara nyata—di
dalam kampus atau di luar kampus. Karena pendidikan dan pengalaman masih dirasa
kurang, makanya kita mesti memiliki keahlian. Keahlian ini tidak hanya pada
bidang atau jurusan yang kita dalami, bisa juga di bidang lainnya. Misalnya saja
mahasiswa jurusan arsitek, dia memiliki keahlian di bidang jurnalis. Atau mahasiswa
keguruan memiliki keahlian dalam wirausaha. Itulah bekal untuk menghadapi
tuntutan zaman.
Masih takut untuk hidup jika tidak menjadi PNS?
Ya masih lah, karena kebanyakan kita—sebagai mahasiswa khususnya—kebanyakan belum memiliki skill
atau keahlian dan pengalaman karena kita hanya mengejar nilai dan mindset kuno
kita untuk menjadi PNS masih membelenggu. Coba tanya ke beberapa teman anda,
ingin kerja dimana setelah lulus kuliah? Pastinya mau kerja di dinas atau
instansi pemerintah dong. Jarang sekali yang ingin membuat inovasi baru membuka
lapangan kerja atau membuka usaha sendiri—walau banyak mahasiswa desain yang punya niat membuka usaha
sendiri. Itu karena mindset dan lingkungan kita—keluarga yang menuntut kita untuk menjadi PNS—sehingga kita kuliah
berorientasi pada kerja sebagai PNS.
Coba saja kita belajar dari pendiri google, dua
orang mahasiswa yang berpikir untuk mendirikan pencarian dan penyimpanan file
hingga akhirnya bisa sebesar sekarang. Atau ambil contoh kisah sukses Mark
Zuckerberg yang sukses membuat Facebook. Lebih dekat lagi Andy F. Noya seorang
pimpinan redaksi di stasiun televisi swasta yang sukses karena skill di bidang jurnalisnya hingga
beliau bisa membawa acara reality show khusus
dirinya yang membawakan sendiri. Nama Emha Ainun Najib juga banyak dikenal
orang walau dirinya hanya kuliah tiga bulan saja. Walaupun mereka seperti itu—menempuh pendidikan tidak
sampai menyandang gelar—, kita harus belajar dari pengalaman mereka dan pengalaman kita
juga. Sangat minim sekali jika kita berpikiran bahwa orang yang tak berijazah sarjana
saja bisa sukses masa’ kita tidak jika kita tanpa usaha untuk meraih
kesuksesan.
Tak ada yang perlu ditakuti untuk tidak menjadi
PNS jika kita memiliki skill dan
pengalaman selain nilai yang kita kejar di kampus. Nilai yang kita kejar hanya
penolong kita untuk melamar kerja karena bisa saja nilai “kasihan” dari dosen
yang kita dapat selama kuliah. Percuma saja nilai—indeks prestasi kumulatif kalau dalam perguruan tinggi—kita 3,5 jika saat implementasi
pekerjaan kita jauh dari nilai yang kita dapat di bangku kuliah. Sangat disayangkan
jika terjadi seperti itu.
Yang perlu diketahui juga, skill dan pengalaman juga masih perlu ditambah dengan pengetahuan
kita tentang dunia kerja diluar bidang kita—walau skill termasuk
pengetahuan diluar bidang kita. Misalnya pengetahuan
tentang berwirausaha. Kita bisa menambah wawasan kita dengan membaca buku-buku
wirausaha, karena wirausaha biasanya adalah pilihan terakhir kita untuk tidak
menjadi pengangguran. Banyak mahasiswa di pulau Jawa yang berwirausaha selain
sebagai mahasiswa ataupun setelah menjadi alumni. Bukan suatu pekerjaan yang tidak
mulia sebagai wirausahawan (kecuali berwirausaha narkoba hehe), bahkan jika
usahanya sukses, malah bisa membuka lapangan kerja untuk lingkungan sekitarnya.
Buang jauh-jauh pikiran bahwa “tak akan hidup
jika tidak menjadi PNS” atau “sengsara di hari tua jika menjadi swasta”, itu
masalah kemampuan kita menyikapi finansial kita sendiri. Tirulah cara hidup
orang China yang hidup seadanya jika masih dibawah, tidak memaksakan diri untuk
bermewahan.
Makanya saya sangat beruntung saat kuliah di
kampus pertama saya pernah belajar tentang kewirausahaan. Mata kuliah ini
memberikan bekal kepada mahasiswa sebagai “cadangan” jika kita tidak bisa
melamar pekerjaan yang sesuai bidang kita. Hingga kini saya sering membaca
artikel tentang berwirausaha walau saya belum sepenuhnya menjalankan kegiatan
itu. Saya tidak takut jika saya tidak menjadi PNS karena saya sudah ada bekal
dari pengetahuan berwirausaha dan masih mengejar skill serta pengalaman. Saat ini, saya mengajak teman-teman untuk
mulai belajar berwirausaha dan berkarya sambil mengasah skill dan mencari pengalaman selama kita mengejar nilai. Tak ada
yang mustahil jika kita berusaha. Mau menjadi PNS, pejabat, dokter, wirausahawan,
penulis, atau apapun itu, tergantung pada pilihan dan jalan hidup kita. Anda memilih
menjadi PNS, bersungguh-sungguhlah mengabdi pada negara karena PNS adalah abdi
negara. Jika anda memilih sebagai dokter, seriuslah dalam pekerjaan menangani
hidup mati orang lain. Anda memilih sebagai wirausahawan, tekunlah bekerja
jangan sampai merugikan orang lain atau malah merugikan diri anda sendiri.
Ah sudahlah, saya ingin mengakhir tulisan ini,
jangan ditanggapi jika tidak bersentuhan dengan anda hehe, silakan berikan
kritikan disertai saran mengenai pikiran-pikiran saya ini, agar saling membuka
pikiran-pikiran kita yang masih membelenggu. Tulisan saya ini bukan sebuah
motivasi atau kata-kata bijak, tapi hanya kekalutan saya dengan keinginan
kebanyak teman yang ingin menjadi PNS tanpa menjunjung tinggi esensi sebagai
abdi negara. Masih banyak pekerjaan lain selain PNS kok. Hehe. Akhirnya pada
penghujung tulisan, saya mengucapkan terimakasih atas permasalahan ini dan anda
yang berkenan membaca. Indonesia Raya dan Salam Konyolers Damai (SKD).